Translate

Rabu, 01 Februari 2017

Agama dan Gerakan Keagamaan

GERAKAN KEAGAMAAN DI INDONESIA
Dekultusisasi Pemahaman Gerakan Agama
Umarwan Sutopo*

         TEOLOGI   Agama (Islam) adalah al Dien yang berisi seperangkat aturan bagi manusia yang ciptakan oleh Tuhan (Allah).  Manusia kaitannya dengan hal ini dibagi menjadi dua macam, yaitu manusia biasa dan manusia pilihan. Nabi dan Rasul adalah mereka yang terpilih olehNya dalam rangka menyampaikan syariat dien tersebut. Muhammad SAW sebagai penutup para utusanNya adalah penerus, penyebar dan sekaligus pelengkap risalah agama samawi yang dibawa oleh risalah Nuh, Ibahim, Musa, Isa dan Nabi-nabi lainnya. Pasca wafatnya Rasulullah SAW, aktifitas penyebaran agama ini tidak boleh berhenti sampai hari akhir, sebab Islam adalah agama final bagi semesta manusia.

            Kaitannya dengan hal ini, maka para ulama sebagai warasatul anbiya berkewajiban mendakwahkan, dalam artian membumikan agama dalam kehidupan manusia. Perbedaan gaya dakwah merupakan keniscayaan, sebab manusia mempunyai latar belakang, situasi dan kondisi yang berbeda. Berangkat dari persoalan ini maka timbulah hampir di semua belahan dunia gerakan-gerakan kegamaan dengan tujuan, gaya, maupun nama yang berbeda.

            Indonesia tanpa terkecuali, terbukanya demokrasi yang semakin longgar menumbuhkan banyak organisasi keagamaan semisal NU (Nahdlatul Ulama). Organisasi besutan KH. Hasyim As’ary ini mempunyai basis mayoritas masyarakat tradisional. Ini tentu berbeda dengan dengan perwujudan Muhammadiyah. KH.Ahmad sebagai aktor terpenting organisasi terbesar ke dua ini selain fokus dalam pemurnian ajaran islam melalui gerakan berantas Tahayul, Bid’ah dan Chufarat (TBC)nya juga membidik peningkatan taraf hidup umat, terbukti ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik Rumah Sakit, BMT, Swalayan, maupun lembaga pendidikan.

            Menyoal gerakan keagamaan di Indonesia dengan segala gaya dan manhajnya, maka tidak lengkap tanpa memunculkan organisasi fenomenal pasca peristiwa 212. FPI (Front Pembela Islam) awalnya adalah wadah bagi para dzuriah Nabi SAW dalam membumikan ajaran agama.. Gaya dakwah FPI memang sedikit berbeda dengan organisasi lainnya. Peluang nahi munkar yang tidak begitu dilirik oleh banyak gerakan keagamaan baik NU dan Muhammadiyah diambil oleh FPI. Dus, ini  berdampak timbulnya persepsi negatif bagi orang yang tidak memahami kesatuan dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar. Hal ini diperparah dengan subjektifitas media mainstream sehingga semua orang yang tidak sejalan dan sependapat dengan FPI menghakimi bahwa Habib Rizieq Syihab beserta organisasinya adalah kaum radikalis.

Lebih lanjut, konflik terbuka maupun tertutup anggota NU dengan Muhammadiyah misalnya, maupun FPI dengan organisasi keagamaan lainnya menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia memahami kebenaran islam melalui kacamata organisasi keagamaan yang diikutinya, semisal NU, Muhammadiyah, FPI dan lain sebagainya.

            Padahal, meskipun organisasi tersebut gerakannya terfokus pada permasalahan agama, tetapi hal tersebut tidak serta merta mampu mendudukkannya sejajar dengan agama itu sendiri. Bahwa agama adalah agama dengan segala kebenarannya yang absolut. Adapun organisasi tetaplah organisasi yang kebenarannya dan kesalahannya masih bersifat “mungkin”, kemungkinan salah dan kemungkinan benar.

            Paradigma berfikir demikian bisa menyempitkan kebenaran agama (islam) yang begitu sempurna hanya dalam koridor organisasi yang digandrunginya. Pengikut NU fanatik maupun Muhammadiyah radikal misalnya, akan cenderung mengamini bahwa kebenaran islam adalah apa yang sejalan dengan organisasinya, selain daripada itu adalah kesalahan.
            Oleh karenanya, mendudukkan agama sebagai agama dan gerakan keagamaan sebagai organisasi belaka adalah keharusan agar konflik-konflik antar organisasi gerakan keagamaan dapat dihindari/ diminimalisir. Sebagai kata penutup, fanatiklah terhadap kebenaran agama, adapun untuk organisasi.. berikan komitmen anda secara sempurna.

Allah A'lam https://www.facebook.com/images/emoji.php/v7/f57/1/16/1f609.png;)
 

*Penulis adalah Dosen Tetap Teologi IAIN Ponorogo dan Dosen Luar Biasa PKN UNMUH Ponorogo.

0 komentar:

Posting Komentar