Translate

Selasa, 31 Januari 2017

Konsep Agama

Konsep Agama
Perspektif Islam
TEOLOGI* Manusia sepanjang sejarahnya mempunyai aturan tertulis ataupun tidak tanpa terkecuali, baik modern maupun primitif. Peraturan-peraturan tersebut adalah hasil cipta karya mereka dalam menjalani kehidupan baik terbentuk dari kesepakatan masyarakat atau pemaksaan kekuatan tertentu. Terkecuali yang muncul dari kreasi manusia, ada aturan lain yang muncul karena kepercayaan adanya kekuasaan supra natural di luar kemampuan manusia yang sebagian manusia menyebutnya sebagai Tuhan.
Kepercayaan adanya Tuhan membawa konsekuensi adanya agama dan aliran kepercayaan dengan segala macam nama dan bentuknya. Lebih jauh, keberadaan Tuhan dan Agama serta aliran kepercayaan tidak bisa dipisahkan. Dimana ada orang beragama, di sana ada Tuhan yang disembah dan diagungkan, dan dimana ada sesuatu yang diagungkan, maka di sana ada aliran/ agama yang diyakini kebenarannya.
Keberadaan berbagai macam aliran kepercayaan dan agama di dunia ini adalah sebuah kenyataan, termasuk bahwa mayoritas semua pemeluknya mengklaim apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Tetapi apakah demikian? Mungkinkah kebenaran milik seluruh agama dan kepercayaan yang ada? Padahal disaat yang sama konsep monotheisme tidak akan pernah akur dengan polytheisme sepanjang masa. Penggolongan agama ke dalam dua bentuk, Samawi (Langit) dan Watsani/ Ardhi (Berhala/bumi) menguatkan kegelisahan tentang kebenaran relatif terhadap sebuah agama/aliran kepercayaan.
Obyektifitas perlu dikedepankan dalam pencarian kebenaran agar terhindar dari subyektifitas. Oleh karenanya, pembakuan tolok ukur perlu dilakukan. Islam melalui ajarannya baik tersurat maupun tersirat menegaskan adanya tiga unsur untuk menimbang apakah klaim kebenaran terhadap sebuah aliran kepercayaan maupun agama dapat dipertanggungjawabkan, sebab jika tidak maka yang muncul adalah pembenaran atas klaim bukan kebenaran klaim itu sendiri.
Unsur pertama adalah Konsep Ketuhanan. Bahwa agama yang benar adalah agama yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan bukan hasil kreasi manusia. Tuhanlah yang menghendaki manusia bersimpuh atas keagunganNya dengan syariat yang Ia kehendaki. Terkecuali daripada itu, titik tekan dalam konsep ini adalah bahwa yang dimaksud Tuhan di sini adalah benar-benar Tuhan dengan segala sifat-sifatnya. Ia Tunggal, Maha Kuasa, Maha Kekal, Maha Pencipta, Maha Penghancur, Maha Dahulu, dan Maha segalanya. Jika ada sesuatu yang tidak Maha kemudian dianggap Tuhan oleh manusia, disembah, dipuja dan puji, maka sesuatu tersebut bukanlah Tuhan, Ia hanya sesuatu yang dipertuhankan dan bukan Tuhan itu sendiri. Konsekuensi dari hal ini, maka Islam menafikan ketuhanan patung-patung, berhala, matahari, Yesus dan benda-benda lainnya yang tidak mempunyai sifat Maha segalanya. Semua itu dalam perspektif Islam bukan Tuhan meskipun dipertuhankan oleh manusia. Agama yang mempunyai Tuhan bermasalah, maka dipastikan agama itu tidak benar.
Kebenaran agama dan aliran kepercayaan tidak bisa berdiri hanya karena konsep ketuhanan yang benar, unsur yang tidak kalah pentingnya adalah unsur Nabi dan Rasul. Semua orang mungkin bisa mengaku nabi dan rasul, tetapi apakah ia benar-benar layak disebut nabi dan rasul? Tentu saja tidak, sebab jika pengakuan semata-mata boleh dipercayai, maka iblis pun bisa mengaku nabi. Secara garis besar, seorang Nabi dan Rasul dalam islam harus mempunyai 4 sifat wajib, yaitu Tabligh (menyampaikan), siddiq (benar), Amanah (dapat dipercaya), Fatanah (cerdas) berserta 4 sifat mustahilnya. Terkecuali daripada itu ada perangkat lainnya seperti mu’jizat maupun wahyu sebagai pembuktian atas kerasulannya. Konsep kenabian dalam islam bukan hanya mengimani 1 rasul dan nabi, tetapi semua rasul dan nabi wajib diimani meskipun dalam perkembangan selanjutnya tidak mengharuskan untuk mengikuti keseluruhan syariatnya. Hal ini berbeda dengan agama Yahudi misalnya yang tidak mengimani Nabi dan Rasul secara keseluruhan, bahkan sebagaian mereka adalah pembunuh nabi. Agama yang konsep nabi dan kenabiannya bermasalah maka dipastikan agama tersebut salah.
Konsep ketiga adalah wahyu, dimana dalam hal ini, pengertian wahyu dipersempit dalam pembahasan kitab suci. Bahwa ketika Tuhan menghendaki syariatnya dijalankan oleh manusia, maka kehendakNya itu disampaikan melalui Nabi dan Rasulnya, kemudian terwujudlah dalam bentuk wahyu, baik yang tertulis maupun terucap. Adapun Kitab suci adalah bagian dari wahyu itu. Kebenaran sebuah kitab bisa diuji melalui beberapa aspek. Diantaranya teori koherensi dimana pernyataan-pernyataanya tidak kontradiktif. Semisal ketika mengatakan Tuhan itu Esa, maka pernyataan ini konsisten dan tidak pernah berubah. Hal ini berbeda dengan Bibel misalnya, dimana banyak temuan ayat yang tidak konsisten ketika membahas sebuah hal. Agama yang mempunyai kitab suci bermasalah, dalam perspektif islam agama tersebut agama yang salah.
Dus, selamat merenung kembali terhadap kebenaran agama anda, lihatlah apakah yang anda sembah adalah benar-benar Tuhan? Atau sebuah hal yang dipertuhankan, pun begitu dengan Nabi dan kitab suci anda,  selamat belajar kembali.


Allah A’lam

0 komentar:

Posting Komentar