Translate

Selasa, 21 Februari 2017

Selfie dan Kebahagiaan


Dunia selfie benar-benar menjadi virus akut di masyarakat Brow, bayangkan hampir setiap area wisata dan tempat tertentu lainnya dipenuhi orang-orang senyum, ketawa-ketiwi dan bahkan rela me manyun-manyunkan bibirnya sambil megang smart phone. Cekrekkk!! Cekrekkk tanda sebuah action harus diubah atau selesai sama sekali.
Ritual menggelikan sebenarnya, sebab tidak hanya dominasi bocah-bocah enom, tapi kaum emak-emak, kaum bapak dan ah..anak-anak bau kencurpun tak mau kalah. "Selfie" konon singkatan dari "Self Potrait" yaitu foto hasil memotret sendiri dengan menggunakan webcam, pocket camera atau smartphone lalu hasilnya di upload ke social media. Dan denger-denger juga sebenarnya "ritual"ini bukan hal baru. Robert Cornelius pada tahun 1839 memotret dirinya sendiri dan fotonya diakui sebagai "selfie" pertama di dunia. Foto tersebut kini dipajang di Library of Congress, Washington. Entah berita ini benar atau enggak, tapi yang jelas tidak akan berpengaruh pada aktifitas pegiat selfi.

Beberapa alasan yang menyebabkan Foto narsis ini sangat booming di masyarakat adalah banyaknya gadget keluaran baru dengan berbagai fasilitas foto. Jika dulu untuk merubah tampang muka penuh jerawat butuh operasi dan perawatan, maka saat ini bisa sekejap lewat editan selfie, dan tett tetttt tettt hasilnya luar biasa saudarah saudarahhhh
Kulit hitam bisa menjadi seputih salju, mata burek jadi berbinar-binar, postur gemuk jadi langsing, pendek jadi tinggi..pokoknya? kamu harus menambah beberapa hal yang kamu larang dalam hidupmu, yaitu “Jangan pernah jatuh cinta pada pandangan photo pertama”.

Terkecuali daripada itu Boss, "selfie" menurut para pakar rasan-rasan adalah tanda orang yang kurang percaya diri tapi ingin narsis. Rela bergaya habis-habisan hanya ingin diakui orang lain. Auh..enggak enak kan, betapa hidup ini digunakan untuk mencari simpatik orang lain. Bukankah kebahagiaan tidak sesempit itu, toh ada banyak cara bahagia tanpa harus demikian. Meski demikian, tidak jarang para selfier radikal akan berargumen “Apapun pendapat orang, yang penting happy”.




0 komentar:

Posting Komentar