Dunia selfie benar-benar menjadi virus akut di masyarakat Brow, bayangkan hampir setiap area wisata dan tempat tertentu lainnya
dipenuhi orang-orang senyum, ketawa-ketiwi dan bahkan rela me manyun-manyunkan
bibirnya sambil megang smart phone. Cekrekkk!! Cekrekkk tanda sebuah action
harus diubah atau selesai sama sekali.
Ritual menggelikan sebenarnya, sebab tidak
hanya dominasi bocah-bocah enom, tapi kaum emak-emak, kaum bapak dan
ah..anak-anak bau kencurpun tak mau kalah. "Selfie" konon singkatan
dari "Self Potrait" yaitu foto hasil memotret sendiri dengan
menggunakan webcam, pocket camera atau smartphone lalu hasilnya di upload ke
social media. Dan denger-denger juga sebenarnya "ritual"ini bukan hal
baru. Robert Cornelius pada tahun 1839 memotret dirinya sendiri dan fotonya
diakui sebagai "selfie" pertama di dunia. Foto tersebut kini dipajang
di Library of Congress, Washington. Entah berita ini benar atau enggak, tapi
yang jelas tidak akan berpengaruh pada aktifitas pegiat selfi.
Beberapa alasan yang menyebabkan Foto
narsis ini sangat booming di masyarakat adalah banyaknya gadget keluaran baru
dengan berbagai fasilitas foto. Jika dulu untuk merubah tampang muka penuh
jerawat butuh operasi dan perawatan, maka saat ini bisa sekejap lewat editan
selfie, dan tett tetttt tettt hasilnya luar biasa saudarah saudarahhhh
Kulit hitam bisa menjadi seputih salju, mata
burek jadi berbinar-binar, postur gemuk jadi langsing, pendek jadi
tinggi..pokoknya? kamu harus menambah beberapa hal yang kamu larang dalam
hidupmu, yaitu “Jangan pernah jatuh cinta pada pandangan photo pertama”.
Terkecuali daripada itu Boss, "selfie"
menurut para pakar rasan-rasan adalah tanda orang yang kurang percaya
diri tapi ingin narsis. Rela bergaya habis-habisan hanya ingin diakui orang
lain. Auh..enggak enak kan, betapa hidup ini digunakan untuk mencari simpatik
orang lain. Bukankah kebahagiaan tidak sesempit itu, toh ada banyak cara
bahagia tanpa harus demikian. Meski demikian, tidak jarang para selfier radikal
akan berargumen “Apapun pendapat orang, yang penting happy”.






0 komentar:
Posting Komentar