Akal dan Wahyu
TEOLOGI Orang-orang bertanya tentang akal dan wahyu, manakah diantara
keduanya yang lebih dulu? Dan mana yang lebih dominan jika wahyu dan akal
saling bertentangan. Bukankah saat ini istilah humanisme begitu populer
dikalangan orang-orang Barat (Eropa) dan diamini oleh sebagian orang Islam,
dimana syariat diturunkan untuk manusia, maka ia harus mampu difahami manusia,
dan mengandung kemaslahatan bagi manusia. Sehingga jika ada nash-nash syariat (wahyu)
yang bertentangan dengan akal dengan kemaslahatan manusia, maka eksistensi
wahyu tersebut harus dipinggirkan, atau minimal makna daripadanya dibuat sesuai
dengan akal.
Permasalahan ini seharusnya didedah mulai dari persoalan hakikat
akal dan manusia itu sendiri. Tuhan (Allah) mencipta beberapa mahkluk dengan
segala fungsi dan kesempurnaanya. Dari sekian mahluk yang ada, benda hidup yang
berjenis tanaman memiliki kelebihan satu
tingkat lebih tinggi dari pada benda mati semisal batu, hal ini karena
tumbuh-tumbuhan masih mempunyai pergerakan, minimal pertumbuhan pada dirinya sendiri
atau pengembang biakan.
Jenis lain yang diciptakannya satu tingkat lebih tinggi daripada
tetumbuhan adalah hewan. Keistimewaan yang
ada pada jenis ini adalah adanya 2 (dua) hal yang melekat padanya yaitu insting
dan naluri yang tidak dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan. Insting dan nalurinya akan
menuntunnya mencari makan sesuai dengan fitrahnya. Herbivora secara otomatis akan memakan
daun-daunan, begitu juga karnivora yang memburu daging. Insting dan naluri ini
tidak terbatas pada makan dan minum semata, tetapi termasuk juga berkembang biak
dan cara bertahan hidup lainnya. Uniknya, meski hanya di karuniai 2 (dua)
perangkat, tetapi hewan lebih mampu bertahan hidup secara sempurna jika
dibandingkan dengan mahluk lainnya. Semut misalnya, mereka mampu hidup
berkelompok dan mempunyai tugas serta fungsi yang sangat rapi sehingga mampu
membentuk koloni yang menakjubkan, padahal mereka tidak dikaruniai akal.
Satu tingkat di atas jenis hewan adalah manusia. Hal ini disebabkan
karena dalam diri manusia tidak hanya tersimpan insting dan naluri, tetapi
Tuhan mengaruniakan satu hal yang sangat berharga, yaitu akal. Tanpanya,
manusia tidak akan mampu bertahan hidup sebagaimana bangsa hewan. Sebab manusia adalah khalifah (penguasa) atas
mahkluk-mahkluk yang tidak berakal, baik bangsa hewan, tetumbuhan ataupun
benda-benda mati. Dengan akalnya ia bisa memilih makanan yang bermacam-macam
saat ia lapar dan instingnya menyuruhnya makan. Dengan akalnya ia bisa memilih
antara sendok, garbu ataupun sumpit untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya,
sehingga akal adalah anugrah besar bagi manusia dalam menyelesaikan
permasalahan hidupnya.
Jawabannya tentu saja tidak. Akal bukankah sesuatu yang super luar
biasa, se jenius apapun manusia berfikir, maka batas fikirannya masih terbatas pada
apa yang pernah ditangkap oleh panca inderanya. Penemu pesawat terbang
terinspirasi dari hewan yang terbang, penemu kapal selam terinspirasi dari
ikan, dan bahkan para seniman hanya mampu berimajinasi dalam batas-batas apa
yang ditangkap panca inderanya, kemudian diolah sedemikian rupa lalu lahirnya
sebuah karya seni.
Pembuktian atas terbatasnya akal justru bisa tidak terbatas. Diantaranya
adalah mampukah akal manusia menggambarkan wujud akal itu sendiri? Manusia
meyakini bahwa “akal” itu ada, tetapi ia sendiri tidak bisa memvisualisasikan
perwujudan akal itu. Ia juga tidak mampu meraba hal-hal di luar apa yang tidak
ditangkap oleh panca indra manusia.Kenyataan-kenyataan ini membuktikan bahwa
akal adalah sesuatu yang lemah. Betapapun jeniusnya seseorang yang memilikinya.
Kaitannya dengan pertanyaan, mana yang lebih dominan jika keduanya
bertentangan? Maka jawabannya adalah wahyu lebih dominan daripada akal. Bahwa meskipun
akal yang mencari wahyu, namun setelah ia menemukannya, ia tidak boleh
mengangkangi wahyu tersebut melainkan harus tunduk kepadanya. Hal ini
dikarenakan wahyu bersumber dari otoritas Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak terbatas
oleh ruang dan waktu, mengetahui apa yang tidak diketahui oleh akal, mengerti
apa yang tidak dimengerti oleh akal, memahami apa yang tidak difahami oleh
akal. Sehingga, ketertundukan akal pada wahyu yang bersumber dari Yang Maha
Kuasa adalah sebuah keharusan, bukan tawar menawar, dan inilah yang disebut dengan IMAN (kepercayaan). Bahwa ketertundukan akal kepada wahyu bukanlah mempersoalkan siapa yang menang dan kalah, tetapi permasalahan iman, adapun penentangan wahyu oleh akal akan menimbulkan kekafiran.
Allah A’lam.







0 komentar:
Posting Komentar