Translate

Senin, 27 Februari 2017

AKAL DAN WAHYU

Akal dan Wahyu
TEOLOGI Orang-orang bertanya tentang akal dan wahyu, manakah diantara keduanya yang lebih dulu? Dan mana yang lebih dominan jika wahyu dan akal saling bertentangan. Bukankah saat ini istilah humanisme begitu populer dikalangan orang-orang Barat (Eropa) dan diamini oleh sebagian orang Islam, dimana syariat diturunkan untuk manusia, maka ia harus mampu difahami manusia, dan mengandung kemaslahatan bagi manusia. Sehingga jika ada nash-nash syariat (wahyu) yang bertentangan dengan akal dengan kemaslahatan manusia, maka eksistensi wahyu tersebut harus dipinggirkan, atau minimal makna daripadanya dibuat sesuai dengan akal.
Permasalahan ini seharusnya didedah mulai dari persoalan hakikat akal dan manusia itu sendiri. Tuhan (Allah) mencipta beberapa mahkluk dengan segala fungsi dan kesempurnaanya. Dari sekian mahluk yang ada, benda hidup yang berjenis tanaman  memiliki kelebihan satu tingkat lebih tinggi dari pada benda mati semisal batu, hal ini karena tumbuh-tumbuhan masih mempunyai pergerakan, minimal pertumbuhan pada dirinya sendiri atau pengembang biakan.
Jenis lain yang diciptakannya satu tingkat lebih tinggi daripada tetumbuhan adalah  hewan. Keistimewaan yang ada pada jenis ini adalah adanya 2 (dua) hal yang melekat padanya yaitu insting dan naluri yang tidak dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan. Insting dan nalurinya akan menuntunnya mencari makan sesuai dengan fitrahnya.  Herbivora secara otomatis akan memakan daun-daunan, begitu juga karnivora yang memburu daging. Insting dan naluri ini tidak terbatas pada makan dan minum semata, tetapi termasuk juga berkembang biak dan cara bertahan hidup lainnya. Uniknya, meski hanya di karuniai 2 (dua) perangkat, tetapi hewan lebih mampu bertahan hidup secara sempurna jika dibandingkan dengan mahluk lainnya. Semut misalnya, mereka mampu hidup berkelompok dan mempunyai tugas serta fungsi yang sangat rapi sehingga mampu membentuk koloni yang menakjubkan, padahal mereka tidak dikaruniai akal.

Satu tingkat di atas jenis hewan adalah manusia. Hal ini disebabkan karena dalam diri manusia tidak hanya tersimpan insting dan naluri, tetapi Tuhan mengaruniakan satu hal yang sangat berharga, yaitu akal. Tanpanya, manusia tidak akan mampu bertahan hidup sebagaimana bangsa hewan. Sebab  manusia adalah khalifah (penguasa) atas mahkluk-mahkluk yang tidak berakal, baik bangsa hewan, tetumbuhan ataupun benda-benda mati. Dengan akalnya ia bisa memilih makanan yang bermacam-macam saat ia lapar dan instingnya menyuruhnya makan. Dengan akalnya ia bisa memilih antara sendok, garbu ataupun sumpit untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya, sehingga akal adalah anugrah besar bagi manusia dalam menyelesaikan permasalahan hidupnya.
Tetapi apakah akal menjadi satu-satunya alat paripurna dalam penyelesaian permasalahan?

Jawabannya tentu saja tidak. Akal bukankah sesuatu yang super luar biasa, se jenius apapun manusia berfikir, maka batas fikirannya masih terbatas pada apa yang pernah ditangkap oleh panca inderanya. Penemu pesawat terbang terinspirasi dari hewan yang terbang, penemu kapal selam terinspirasi dari ikan, dan bahkan para seniman hanya mampu berimajinasi dalam batas-batas apa yang ditangkap panca inderanya, kemudian diolah sedemikian rupa lalu lahirnya sebuah karya seni.
Pembuktian atas terbatasnya akal justru bisa tidak terbatas. Diantaranya adalah mampukah akal manusia menggambarkan wujud akal itu sendiri? Manusia meyakini bahwa “akal” itu ada, tetapi ia sendiri tidak bisa memvisualisasikan perwujudan akal itu. Ia juga tidak mampu meraba hal-hal di luar apa yang tidak ditangkap oleh panca indra manusia.Kenyataan-kenyataan ini membuktikan bahwa akal adalah sesuatu yang lemah. Betapapun jeniusnya seseorang yang memilikinya.

Kaitannya dengan pertanyaan, mana yang lebih dominan jika keduanya bertentangan? Maka jawabannya adalah wahyu lebih dominan daripada akal. Bahwa meskipun akal yang mencari wahyu, namun setelah ia menemukannya, ia tidak boleh mengangkangi wahyu tersebut melainkan harus tunduk kepadanya. Hal ini dikarenakan wahyu bersumber dari otoritas Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, mengetahui apa yang tidak diketahui oleh akal, mengerti apa yang tidak dimengerti oleh akal, memahami apa yang tidak difahami oleh akal. Sehingga, ketertundukan akal pada wahyu yang bersumber dari Yang Maha Kuasa adalah sebuah keharusan, bukan tawar menawar, dan inilah yang disebut dengan IMAN (kepercayaan). Bahwa ketertundukan akal kepada wahyu bukanlah mempersoalkan siapa yang menang dan kalah, tetapi permasalahan iman, adapun penentangan wahyu oleh akal akan menimbulkan kekafiran.
Allah A’lam.



0 komentar:

Posting Komentar