Kecerdasan Mencintai & Membenci
Tulisan ini
dibuat tanpa ada sedikitpun unsur penghakiman ataupun menggurui. Terkecuali
minimnya pengetahuan penulis, istilah untuk “mengajar” setidaknya harus dipikir
ulang, sebab sejak kurun waktu 2009 hingga saat ini, meskipun dana pendidikan
tidak begitu besar, tetapi mayoritas masyarakat di Indonesia kecerdasannya
sudah meningkat tajam. Terbukti dengan adanya trend ”Maido Berjama’ah”
baik di media sosial maupun ruang lainnya.
Bayangkan,
seorang yang bacaan al Qur’annya masih blekak-blekuk, ngajinya setahun sepisan,
bahasa arab ala kadarnya, bahkan ada yang tidak pernah mangan bangku sekolah
agama, tapi kalau menggugat “Fatwa Ulama” seolah-olah seperti Nabi.
Ah..rasanya luar biasa para saudarah-saudarahh.
Yah...tepatnya sekedar
lemparan ide kepada netizen terkait mencintai dan membenci dengan cerdas.
Tetapi ini juga bukan terkait legenda Laila Majnun, Cleopatra & Mark Anthony, Romeo & Juliet, Shah Jahan
dan Arjumand Bann Begum serta deretan kisah cinta lainnya. Ini adalah tentang
kita, Bangsa Indonesia. Akhir- akhir ini aroma kebencian dan kecintaan buta
terhadap individu dan golongan begitu menguat. Padahal meski rasa cinta &
benci adalah naluri. Tetapi melakukannya dengan buta adalah kekonyolan yang
sangat konyol.
Bahwa manusia
diciptakan bukan untuk saling membenci melainkan mencintai itu saya kira adalah
prinsip dasar, maka kebencian seharusnya muncul karena buruknya aksesoris
yang menempel pada sesorang dan bukan subtansi wujud dari orang itu sendiri. Sikap,
sifat ataupun perilaku adalah bentuk aksesoris yang menempel pada seseorang
adapun warna kulit, jenis kelamin dan maupun suku dimana ia dilahirkan adalah
subtansi.
Manusia tidak
boleh saling membenci karena subtansi seseorang, toh mereka tidak punya pilihan
atas kehendak Tuhan (Allah). kuasaNya lah yang menjadikan mereka hitam, putih,
Arab, ‘Ajam, suku Jawa, Madura, China dan sebagainya. Tetapi manusia
punya pilihan untuk berperilaku, bersikap maupun bersifat. Sifat baik dan
jahat, santun dan kasar, jujur dan pembohong ataupun semisalnya.
Aksesoris adalah
satu-satunya alasan dimana mereka boleh membenci. Ayam adalah ilustrasi
sederhana terkait hal ini. Ketika seekor ayam tiba-tiba naik dan buang kotoran
di meja makan, maka yang boleh dibenci bukan karena wujud ayamnya, melainkan
sikapnya yang buang kotoran di meja anda. Sebab, jika subtansi ayamnya yang
anda benci, maka anda akan kehilangan momen lezatnya ayam panggang di meja
makan. Kenapa? Karena anda telah membenci wujudnya ayam, bukan sikapnya saat
buang kotoran.
Allah A’lam.






0 komentar:
Posting Komentar