Translate

Kamis, 16 Februari 2017

Kecerdasan Mencintai & Membenci

Kecerdasan Mencintai & Membenci
Tulisan ini dibuat tanpa ada sedikitpun unsur penghakiman ataupun menggurui. Terkecuali minimnya pengetahuan penulis, istilah untuk “mengajar” setidaknya harus dipikir ulang, sebab sejak kurun waktu 2009 hingga saat ini, meskipun dana pendidikan tidak begitu besar, tetapi mayoritas masyarakat di Indonesia kecerdasannya sudah meningkat tajam. Terbukti dengan adanya trend ”Maido Berjama’ah” baik di media sosial maupun ruang lainnya.

Bayangkan, seorang yang bacaan al Qur’annya masih blekak-blekuk, ngajinya setahun sepisan, bahasa arab ala kadarnya, bahkan ada yang tidak pernah mangan bangku sekolah agama, tapi kalau menggugat “Fatwa Ulama” seolah-olah seperti Nabi. Ah..rasanya luar biasa para saudarah-saudarahh.

Yah...tepatnya sekedar lemparan ide kepada netizen terkait mencintai dan membenci dengan cerdas. Tetapi ini juga bukan terkait legenda Laila Majnun, Cleopatra & Mark Anthony, Romeo & Juliet, Shah Jahan dan Arjumand Bann Begum serta deretan kisah cinta lainnya. Ini adalah tentang kita, Bangsa Indonesia. Akhir- akhir ini aroma kebencian dan kecintaan buta terhadap individu dan golongan begitu menguat. Padahal meski rasa cinta & benci adalah naluri. Tetapi melakukannya dengan buta adalah kekonyolan yang sangat konyol.

Bahwa manusia diciptakan bukan untuk saling membenci melainkan mencintai itu saya kira adalah prinsip dasar, maka kebencian seharusnya muncul karena buruknya aksesoris yang menempel pada sesorang dan bukan subtansi wujud dari orang itu sendiri. Sikap, sifat ataupun perilaku adalah bentuk aksesoris yang menempel pada seseorang adapun warna kulit, jenis kelamin dan maupun suku dimana ia dilahirkan adalah subtansi.

Manusia tidak boleh saling membenci karena subtansi seseorang, toh mereka tidak punya pilihan atas kehendak Tuhan (Allah). kuasaNya lah yang menjadikan mereka hitam, putih, Arab, ‘Ajam, suku Jawa, Madura, China dan sebagainya. Tetapi manusia punya pilihan untuk berperilaku, bersikap maupun bersifat. Sifat baik dan jahat, santun dan kasar, jujur dan pembohong ataupun semisalnya.

Aksesoris adalah satu-satunya alasan dimana mereka boleh membenci. Ayam adalah ilustrasi sederhana terkait hal ini. Ketika seekor ayam tiba-tiba naik dan buang kotoran di meja makan, maka yang boleh dibenci bukan karena wujud ayamnya, melainkan sikapnya yang buang kotoran di meja anda. Sebab, jika subtansi ayamnya yang anda benci, maka anda akan kehilangan momen lezatnya ayam panggang di meja makan. Kenapa? Karena anda telah membenci wujudnya ayam, bukan sikapnya saat buang kotoran.

Allah A’lam.



0 komentar:

Posting Komentar