Translate

Rabu, 22 Februari 2017

BENAR & KEBENARAN

Dialektika Berfikir
‘’Jadilah manusia pintar sebisa mungkin, karena kebodohan adalah alasan mudah bagi orang-orang culas untuk mepencundangimu, tetapi INGAT..! kepintaran akan membawa petaka kecuali berjalan lurus dengan kebenaran”.
Kalimat di atas tentu saja bukan teks suci yang kebenarannya absolut, itu hanya hasil renungan atas apa yang terjadi saat ini. Bahwa Kekacauan sosial, politik dan budaya tidak ditimbulkan oleh sekumpulan orang bodoh, melainkan adanya tangan-tangan pintar yang memanfaatkan kebodohan orang lain di luar kebenaran.
Tetapi apakah kebenaran itu sendiri?
Jika diturut dari akar bahasanya, maka kebenaran adalah klaim atas sesuatu yang bisa dibuktikan kebenarannya/ hal tersebut layak disebut benar. Dengan demikian, kebenaran bisa ditarik-tarik dalam banyak aspek, semisal kebenaran informasi, kebenaran agama, kitab suci, pendapat dan lain sebagainya.
Adapun teori untuk membuktikan hal tersebut diantaranya adalah Teori korespondensi dimana suatu pernyataan dikatakan benar jika bersesuaian dengan fakta. Jadi, opini/ pendapat dan berita-berita penyanjungan keberhasilan terhadap seorang pemimpin misalnya, dikatakan tidak benar dan bukan kebenaran ketika tidak sesuai dengan fakta. Meskipun hal ini sudah ada sejak zaman Nazi, Hitler dan Stalin.
Teori lainnya adalah Koherensi. Suatu pernyataan dapat dikatakan benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang di anggap benar". Al Qur’an contohnya, dikatakan sebagai kitab suci yang benar karena pernyataan-pernyataan dalam Al Qur’an tidak bertumpang tindih, bahwa penyebutan Allah adalah Tuhan Yang Esa tidak pernah berubah baik di awal, di tengah maupun di akhir kitab.
Lebih lanjut, sebagian manusia men-generalisir kebenaran, termasuk kaitannya dengan agama, bahwa “Tidak ada kebenaran absolut, yang ada adalah kebenaran relatif”. Maksudnya adalah bahwa benar menurut seseorang belum tentu benar menurut orang lain.
Hal ini tentu tidak bisa serta merta diterima, karena logika mengatakan bahwa jika ada kebenaran, maka disaat yang sama harus ada kesalahan. Artinya jika benar itu ada, maka salah juga harus ada.
Adapun kaitannya dengan pemahaman terhadap agama (Madzhab) dan gerakan keagamaan, maka relativisme (kemungkinan) bisa diterima. Tetapi relativisme sebuah pemahaman dan gerakan keagamaan tidak abadi, ia bisa berubah menjadi absolute manakala didedah melalui cara yang sudah “ma’lum” kebenarannya. Hal inilah yang menyebabkan pendapat Syiah terkait kebolehan Nikah Mut’ah tidak benar meskipun Kaum Syiah menganggapnya benar. Tersingkirnya banyak pendapat Madzhab Dawud Ad Dhahiri dalam percaturan Madzhab Fiqh, Ditolaknya penafsiran-penafsiran kaum liberal terhadap nash-nash, maupun pengingkaran umat terhadap gaya dakwah Firqah Khawarij membuktikan bahwa relativisme kebenaran tidak abadi, ia akan berubah menjadi absolute manakala kebenaran itu dicari melalui metode yang benar pula.
Jadi, benar tetaplah benar meskipun seribu orang mengatakannya salah, dan salah adalah salah meskipun sejuta orang membenarkannya

0 komentar:

Posting Komentar