Konsep Ketuhanan*
TEOLOGI Mungkinkah ada orang ber Tuhan tapi tak beragama, atau sebaliknya beragama namun tidak ber Tuhan? Secara teorinya agama dan Tuhan tak terpisahkan, keduanya merupakan rangkaian kesatuan tak terpisahkan. Tuhan dikenal lewat agama, sedangkan agama diciptakan olehNya. Tetapi permasalahnnya adalah siapa yang berhak dianggap sebagai Tuhan dan di-Pertuhankan di tengah perbedaan pengakuan manusia atas sesuatu yang disebut Tuhan?
Atheis
Manusia kaitannya dengan agama/ aliran kepercayaan dibagi menjadi 2 (dua), Atheis dan Theis. Mereka yang tergolong kelompok pertama adalah penganut sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan beragam dewa ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa maupun Tuhan Sebenarnya Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani(átheos), yang merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama kepercayaan mapan di lingkungannya. Istilah atheis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan saat kebebasan berfikir dan kritik terhadap agama mendapat tempat di Eropa.
Penganut radikal atheis sangat yakin bahwa Tuhan tidak ada. Keyakinan ini berangkat dari faham materialisme yang menihilkan sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh panca indera manusia. Lebih jauh, bagi mereka kalaupun Tuhan itu wujud, maka keyakinan atas wujudNya adalah sebatas kemungkinan, bahwa para ilmuwan tidak bisa membuktikan ketiadaan Tuhan tetapi disaat yang sama, ternyata tidak ada pula orang yang pernah membuktikan kehadiran Tuhan. Mereka bingung atas klaim agamawan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa itu wujud, tetapi juga pada saat yang sama Sang Tuhan bersusah payah menyembunyikan diriNya sendiri, tidak membantu manusia dalam cara apapun, kapanpun, dan di manapun sehingga Ia dikenal.
Sebenarnya kaum ini bertolak belakang dengan 2 (dua) hal, pertama mereka menolak eksistensi Tuhan karena tidak bisa ditangkap panca indera, padahal mereka meyakini wujudnya akal fikiran, padahal akal fikiran sama-sama sesuatu yang tidak yang bisa diindera. Ke dua mereka ingin memaksakan kehendak bahwa jika IA wujud, maka keberadaanya harus bisa diindera, padahal panca indera manusia terbatas oleh ruang dan waktu, sedangkan Tuhan tidak terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga IA mengenalkan dirinya lewat benda-benda yang diciptakanNya.
Theis & Tuhan
Naluri manusia pada umumnya merasakan bahwa di luar kemampuannya ada sesuatu kekuatan Maha Dahysat. Sebagian mereka menyebutnya sebagai kekuatan Supra Natural yang tertuang dalam kata Tuhan maupun Dewa dan istilah-istilah lainnya. Hal ini dikuatkan dengan banyaknya istilah tersebut dalam aliran kepercayaan yang beredar pada peradaban manusia dari generasi ke generasi. Tuhan adalah nama yang tidak lagi asing bagi setiap manusia. Ia merujuk kepada suatu dzat supranatural, biasanya dikatakan mengawasi dan memerintah semesta atau jagat raya. Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk pada kekuatan dahsyat yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan. Pada perkembangannya, ketika masing-masing agama dan aliran kepercayaan memaknai Tuhan secara berbeda, maka tafsir atas kata”TUHAN” ini akan bertentangan satu sama lain, sehingga pertanyaan yang sangat menarik adalah siapa yang disebut Tuhan itu?
Setidaknya ada 3 (unsur) sebagai standar apakah “sesuatu” itu benar-benar Tuhan atau hanya sesuatu yang dipertuhankan. Pertama adalah harus Tunggal (Esa) sebab Ia adalah Maha dari segala sesuatu, jika ada sesuatu yang Maha selain dirinya, maka antara “diriNya” dan “sesuatu” itu tidak ada yang “Lebih Maha”. Jadi, konsekuensinya, sesuatu bisa dikatakan Tuhan manakala tidak ada satupun yang setara atau bahkan di atas diriNya. Unsur ini secara otomatis menafikan semua hal yang dipertuhankan manusia sementara ia masih berbilang, trinitas kristen maupun dewa misalnya.
Unsur ke dua adalah Ia harus Maha awal tetapi tidak berawal, sebab sesuatu yang masih ada yang mendahuluinya, maka ia pasti bukan Tuhan, sebab Tuhan adalah awal dari wujud sesuatu. Sebelum perwujudanNya tidak ada sesuatupun yang wujud termasuk waktu itu sendiri. Di saat yang sama Ia harus Maha akhir tetapi tidak berakhir atau bahasa lainnya kekal. Sebab bagaimana mungkin dianggap Tuhan jika ia bisa berakhir. Semua yang punya akhir tidak layak disebut Tuhan, bahkan jika sesuatu itu adalah “waktu”. Konsekuensinya, Matahari, Bulan, Bintang tidak layak disebut sebagai Tuhan karena mereka semua berawal dan berakhir.
Unsur ke tiga adalah Ia harus Maha Pencipta, sebab segala sesuatu di semesta ini awalnya tidak wujud, baru ada ketika Ia menciptakannya. Makna Maha Pencipta juga berarti bahwa Tuhan tidak diciptakan oleh sesuatu yang lain. Sebab jika ia masih diciptakan oleh sesuatu, maka disaat yang sama ia bukan Maha Pencipta lagi, tetapi hanya barang ciptaan meski canggih dan hebat sekalipun. Konsekuensi dari hal ini, maka semua hal yang dipertuhankan oleh manusia bagaimanapun bentuk dan apapun namanya, jika sesuatu itu masih dibuat oleh sesuatu yang lain maka sungguh tidak layak disebut Tuhan Yang Maha Kuasa.
Lalu siapa gerangan nama Tuhan?
Sesuatu Yang Maha Tunggal itu, sesuatu Yang Maha Awal itu, sesuatu yang Maha Pencipta itu menyebut dirinya sebagai ALLOH dalam Al Qur’an Surat al Ihlas : Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa * Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu* Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.
Allah A’lam.
*Konsep Tuhan Perspektif Islam (logika dan Nash).






0 komentar:
Posting Komentar