KI TOPO JOYO BINANGUN
HIDUPLAH DALAM GERAKAN KEBENARAN AGAR ENGKAU DIMASUKKAN DALAM GOLONGAN ORANG-ORANG YANG BENAR, MESKI SAAT INI KAMU BUKANLAH ORANG YANG BENAR.
Pantai Alexanderia Egypt
Demi masa, Manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Masa Laloe
Anda tidak mungkin lagi merubah masa lalu, yang mungkin anda lakukan adalah meratapinya atau mensyukurinya untuk pijakan menatap masa depan.
Benteng Sholahuddin Al Ayyubi Alexanderia
Bersama KH. Fathullah Amin LC.
Al Azhar Conference Center (ACC)
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Minggu, 21 Februari 2021
Senin, 12 Oktober 2020
Ideologi, Cinta dan Peperangan
Tae Guk Gi
(Persaudaraan Perang)
Kesulitan hidup keluarga Tae tidak mengusir kebahagiannya
melihat sang adik bisa sekolah, ibu dan calon istrinya bisa makan, mereka hidup
gembira dalam kesederhanaan sampai pecah perang saudara. Korut melakukan invansi
darat dan udara atas nama “Perang Pembebasan Tanah Air”. Sejumlah 231.000 pasukan dengan peralatan tempur yang memadai berhasil menguasai Kaesŏng,
Chuncheon, Uijeongbu, dan Ongjin.
Perang meletus, suasana mencekam, rumah dibakar, suara bom
dan mesiu menteror, penduduk mengungsi termasuk keluarga Tae. Di tengah
perjalanan, pasukan Korsel menyisir para pengungsi, semua laki-laki dewasa wajib
bela negara. Ibu Tae, Shin, dan kedua adiknya menangis, menghiba, meratap
hingga akhirnya melepas dengan pandangan kosong saat Tae dan Seok dibawa paksa
tentara.
Beban Shin bertambah, kelaparan di depan mata dan pasukan korut
benar-benar menguasai kota, mengusir tentara selatan, memaksa penduduk menjadi
agen-agen propaganda komunis dengan imbalan makan atau hukuman kematian. Pilihan
yang sulit di masa yang sulit bagi mereka, termasuk Shin, bayang-bayang
kematian kedua adiknya membuatnya bertekuk lutut pada kuasa komunis meski tidak
pada idiologinya.
Di sisi lain, usaha Tae agar adiknya dipulangkan sia-sia,
kecuali ia mampu mendapatkan medali perang. Dari sini bermula, Tae melakukan
apa saja agar Seok, adiknya tidak mati. Naluri membunuhnya tumbuh cepat melihat
kekejaman pasukan korut membantai warga sipil tak berdosa. Kebenciannya terhadap
semua bau komunis menyala-nyala. Tetangganya sendiri, mati di tangannya gegara
mau dipaksa jadi penyokong korut. Naluri perang, membunuh atau dibunuh telah bersemayam.
Seok sendiri mulai menyayangkan sikap kakaknya yang awalnya laki-laki sabar dan
sederhana berubah menjadi pembunuh berdarah dingin.
Eskalasi perang berubah saat sekutu mulai membantu korea
selatan, pasukan korut hancur, Pyongyang pun jatuh. Tae akhirnya berkesempatan
mengunjungi keluarganya, malang tak
dapat ditolak, justru saat ia menginjakkan kaki di pelataran rumah, Shin kekasihnya
digelandang kelompok pemuda anti komunis untuk dieksekusi mati bersama puluhan
warga lainnya. Tae dan Seok idak tinggal diam, mereka terlibat perselisihan
dengan kelompok tersebut, jasa mereka dalam peperangan korea tidak menghalangi kematian
Shin, dan mereka berdua ditahan militer karena dianggap pro komunis.
Tae memohon agar adiknya Seok dilepaskan, namun bukannya dilepas,
justru sipir penjara memerintahkan supaya penjara berikut tahanan dibakar
sebelum tentara Tiongkok pro korut tiba. Benih-benih kebencian Tae terhadap
Korea Selatan tumbuh di puing-puing reruntuhan penjara, diantara jasad para tawanan yang sudah menjadi abu. Kekasihnya
di bunuh, adiknya dibakar..maka tidak ada alasan cinta pada negara yang telah
merenggut semua kebahagian hidupnya, sebagai penyemir sepatu, sejatinya dia
juga tidak faham apa itu komunis dan bukan komunis, demokrasi dan bukan, yang
ia tahu bahwa hidup haruslah damai dan kekejaman siapapun tidak boleh dilakukan
oleh siapapun. Akhirnya Ia bergabung dengan pasukan korut untuk melawan
kekejaman rezim Syingman Rhe di divisi pasukan bendera. Dus..Tae didakwa
pengianat negara.
Juli, 1951 di Rumah Sakit Militer Tae Jeon Korea selatan, Seok yang selesai perawatan mendengar kabar
bahwa kakaknya dicap penghianat, rupanya ia selamat dari pembakaran karena
ditolong lolos oleh teman kakaknya ketika kobaran api melahap kamp tahanan. Ia tahu
bahwa Tae tidak faham tentang idiologi, keberpihakannya pada korut tidak ada
kaitannya dengan itu, melainkan kekecewaanya atas kekejaman tentara korsel terhadap
kekasih dan adiknya yang tidak berdosa. Atas dasar itulah Seok bersikeras masuk
area pertempuran Dumillyong, tidak lain dan tidak bukan untuk mengkabarkan
kepada Tae bahwa ia masih hidup dan
membawanya pulang kembali ke korsel.
Seok berlari menyusuri parit pertahanan musuh, menyusup diantara
baku tembak, letusan granat, desingan
peluru, muntahan mortir dan mayat-mayat yang bergelimpangan dari kedua belah pihak.
Usahanya untuk sampai di basis pasukan bendera korut tidak sia-sia. Ia amat hafal
dengan dengan gaya gerakan kakaknya meskipun dibalik baju kotor, penuh debu, darah
dan topi tentara kusamnya itu. Sebaliknya Tae tidak, ia sudah yakin adiknya
tewas terbakar, sejurus kemudian Tae menyerang pemuda yang memandanginya itu
yang tak lain adalah adiknya sendiri sampai-sampai belatinya hampir memenggal
adiknya seandainya sang adik tidak berteriak bahwa dirinya adalah adiknya.
Pergulatan penuh amarah berubah menjadi pelukan rindu, haru
dan tangisan sesenggukan kakak beradik. Tae begitu menyayangi adiknya, dan Seok
pun demikian kepada kakaknya, namun kecamuk perang tidak mungkin membiarkan 2 kubu
tentara berpelukan damai, hanya beberapa saat Tae memaksa adiknya mundur sebab pasukan
korut akan perang habis-habisan meskipun jelas-jelas kalah, ia tak ingin
adiknya mati atas kebengisan kawan-kawannya.
Akhirnya, setelah Tae berjanji untuk selamat, Seok melepas
pelukannya, dengan deraian air mata ia merayap mundur. Tae kakaknya berbalik
menembaki pasukan korea utara yang hendak mengejar adiknya, akibatnya hanya
selang beberapa menit ia menjadi sasaran tembak pasukan korut dan korsel
sekaligus. Tubuhnya yang telah rapuh oleh peperangan menjadi mortir adiknya,
gugur entah sebagai pasukan korea utara, atau korea selatan.
…
…
Berpuluh tahun kemudian, Seok pun telah tua dan menjadi
veteran perang, selama itu pula ia menunggu Tae, kakaknya yang dulu pernah
berjanji untuk hidup dan akan mengunjunginya. Penantiannya tak pernah surut,
harapannya tak pernah padam meski ada sebetik rasa bahwa sang Kakak yang begitu
menyayanginya telah gugur.
..
Semoga menjadi ibrah buat anak-anak muda yang belum
mengerti arti kedamaian dan para pemimpin yang haus kekuasaan.
Senin, 29 Juni 2020
Tipologi Lembaga Pendidikan Islam
Dari pengamatan tipis-tipis saya, maka lembaga pendidikan itu setidaknya bisa dikategorikan dalam 3 (tiga) kelompok besar, yaitu Pendidikan Kader, Pendidikan Setengah Kader, Pendidikan Seger Waras Full Andum Slamet.
Nah berikut ini penjelasan mbelegedes-nya.
Pertama, Pendidikan Kader (Peka)
Lembaga yang termasuk PeKa bisa dilihat dari konsitensinya memperjuangkan ciri khas pendidikannya, tidak mudah ganti kurikulum atau kesusu ikut trend-trend pendidikan terbaru. Diantara ciri-ciri dasarnya adalah totalitas masing-masing dari wali, siswa dan pendidik/ lembaga dengan 4 (empat) T-nya, yaitu Tego, Tatag, Tutuk dan Titis.
Tego (tega), artinya wali murid yang memasukkan ke lembaga ini biasanya pasrah bongkokan (memasrahkan sepenuhnya), mereka sudah insyaf/ bisa diinsyafkan bahwa proses pendidikan tidak boleh ada campur tangan/ disandera secara langsung maupun tidak langsung baik dengan uang, pengaruh maupun pangkat jabatan yang dimiliki wali santri.
Tatag (tidak canggung), Artinya memiliki keberanian dalam memproses anak didik. Tidak ragu, tidak canggung, tidak takut. Tidak perduli anak orang kaya, miskin, semua di depan pendidikan berderajat sama. Saat benar dikuatkan, diapresiasi, saat salah dibina, dan yang memang tidak mau maka dibinasakan (keluarkan). Tatag artinya mengerahkan daya upaya (uang, pemikiran, mujahadah) agar lembaga tidak hanya punya fasilitas yang patut untuk dianggap excelent, tetapi para pendidiknya juga bisa merasakan ihlas dan puas dalam mendidik. Tatag artinya tidak merasa canggung dengan ciri khas/ ke unikan yang dimiliki. Karena hal yang kuno misalnya, bagi sebagian orang justru tidak jarang unik dan apik bagi yang lain. Begitu pula hal yang bersifat baru/ modern. Ibarat setiap menu makanan, mempunyai penggemarnya masing-masing yang akan mencarinya.
Tutug (tuntas), maksudnya adalah para siswa yang masuk di lembaga model ini mayoritas memang sudah nawaitu. Tidak hanya mau membayar, namun juga belajar, mau bersaing, mau didik untuk sampai selesai (tuntas). Tutug tegese para pendidik dan lembaga tidak berhenti mengajar dan mendidik setelah lonceng tanda pulang berbunyi, melainkan berlanjut dengan hantaran doa mujahadah di keheningan malam para murrabby.
Titis (mengena), Out put dari lembaga ini seperti bacaan idhar (jelas) mudah dilihat, kalau keunggulannya bahasa, maka bahasanya maju dengan konsekuensi mungkin faktor lainnya mundur, tapi jelas ada yang titis di satu bidang unggulan, tidak abu-abu atau samar-samar seperti ikhfa’ haqiqi. Titis, lulusannya mampu menjawab dengan penuh keyakinan pertanyaan “kamu bisa apa/ membuat apa/ berbuat apa?”
Karena model pendidikan kader (PeKa)begitu istimewah, maka kompetensi keilmuannya rata-rata cukup bagus. Imbasnya ke luar dengan izin Allah, grafik daya tarik pasar/ peminat pelan-pelan tapi pasti akan naik-naik dan semakin naik. Adapun ke dalam, kebanggaan dan cintanya pada almamater tidak diragukan lagi, baik oleh santri/ siswa, guru/ ustadznya, bahkan para wali pun bisa merasa sah untuk Ge Er karena punya anak bisa belajar di sana.
Ke Dua Pendidikan Setengah Kader (PSK)
Pola lembaga pendidikan ini lebih banyak dijumpai di masyarakat kita. Dinamakan setengah kader, karena tidak meninggalkan sebagian ciri pengkaderan, namun demikian budaya pendidikannya mulai kurang konsisten/ istiqomah terhadap bentuk out put anak didiknya. Jadi mirip-mirip lagunya Armada Band, mau dibawa kemana hubungan kita?
Pasalnya, orientasi hasil pendidikan merujuk kepada kebutuhan pasar yang lagi trend. Lagi trend boarding school, rame-rame ikut boarding school, lagi trend sekolah berbasis tahfidz al qur’an, rame-rame ikutan, lagi trend berbasis life skill, rame-rame ikutan. Dan seterusnya.
Salahkah?
Tentu tidak sepenuhnya, barangkali itu adalah ijtihad terbaik dari pengelola lembaga untuk mengikuti arus zaman. Karena petuah bijak menyatakan, “segala sesuatu ada masanya, baik nge hit atapun suram, maka pandai-pandailah mengambil keputusan di momen yang tepat”. Terkecuali daripada itu, memang tidak dipungkiri bahwa perubahan zaman, situasi dan kondisi harus dijawab melalui perubahan model pendidikan oleh para pendidik/ lembaga pendidikan. Mereka yang tidak mau berubah bukan tidak saja mungkin tertinggal, bahkan lebih parah akan tergilas zaman. Betapa banyak pesantren salafiah di kampung-kampung yang menjadi al marhum, bahkan SDN-SDN yang biayanya ditanggung negara kukut di beberapa tahun terakhir ini. Kenapa? Jawabannya adalah karena “jumud”, tidak mampu merespon perkembangan zaman.
Perubahan model pendidikan memang perlu, namun jika tidak benar-benar matang dan sekedar bereuforia, ikutan rame-rame maka imbasnya kembali kepada lembaga sendiri, orang akan susah mengidentifikasikan bentuk lulusan. Ahli di bidang tertentu juga tidak, tidak ahli sama sekali juga tidak dan akhirnya out put nya pun tidak titis.
Ketiga, Pendidikan Full Seger Waras Andum Slamet.
Pendidikan ini dinilai paling banyak dari pada model pertama dan ke dua. Biasanya mempunyai semboyan “daripada tidak”. Daripada tidak sekolah, daripada tidak ada gurunya, daripada tidak ada siswanya, daripada dan daripada. So imbasnya bisa dibayangkan, betapa mengurusi lembaga macam ini seperti pepatah makan buah simalakama. Tidak diurusi eman-eman daripada mati, kalaupun diurusi kok layamutu wala yahya, tidak bermutu dan banyak biaya. Namun demikian, tetap harus dipertahankan karena keberadaanya adalah rahmat bagi semesta mereka yang punya semboyan “daripada tidak”.
Merahmati mereka yang daripada tidak sekolah
Merahmati mereka yang daripada tidak mengajar
Merahmati mereka yang daripada tidak disekolahkan anak-anaknya
Merahmati, dan merahmati.
Bukankah menabur rahmat adalah kemuliaan?
Maka model lembaga ini tidak boleh dibasmi, harus dibiarkan atau justru dibantu sampai masanya berubah, atau jika tidak.harus direlakan mati dengan sendirinya.
Tipe-tipe wali yang ada di lembaga ini beragam, ada yang toto dan ada yang kurang Toto. Mereka yang kurang toto itu kadang seperti ahlinya ahli, corenya the core sehingga sering protes terkait kebijakan, harus beginilah, kurang begitulah, apalagi jika anaknya dapat masalah di sekolah. Malang malang putung, rawe-rawe rantas, labrak sampai tuntas. Jadi selain tidak toto, tidak juga tego.
Ada pula type walinya yang seperti orang parkir sepedah, yang penting bayar maka semuanya dianggap beres. Jadi setelah dipasrahkan anaknya di lembaga, entah mau jadi apa dan bagaimana perkembangan si anak…allahu a’lam, yang penting sudah bayar, dan bahkan ada juga type wali yang agak kelewatan. Untuk iuran berat, tapi kalau urusan shooping, jalan-jalan..jangan tanya lagi, pokoknya aaashiiaaap.
Sementara itu, para pendidiknya juga tidak bisa tutug, dari mendidik sebagai sebuah kewajiban, berubah menjadi mengajar sebagai rutinitas dan patut-patut. Kadang masuk, kadang tinggal derep. Lha bagaimana tidak, wong ngajar tidak dibayar sepatutnya, maka mengajarnya pun akhirnya seperlunya. Pas perlu ngajar ya ngajar, pas perlu kerja ya kerja.
Para pendidik juga tidak bisa tatag, Bagimana tidak, ada aura takut kehilangan murid, takut dimarahi orang tua siswa, takut tidak dapat bantuan, takut dan takut. Pada akhirnya murid-murid seger waras pun ambil kesempatan, masuk sekenanya, belajar seingatnya, dan ujian sebisanya, wong daripada tidak sekolah.
Jadi pendidikan model ini sungguh berjalan ala kadarnya daripada tidak berjalan, yang penting slamet dan seger waras, maka tidak heran hasilnyapun tidak benar-benar titis. Imbas keluar, masyarakat tidak akan bernafsu pada lembaga tersebut kecuali mereka yang punya slogan “daripada tidak”. Adapun efek ke dalam, jangan bicara tentang kebanggaan dan cinta muridnya pada almamater, bahkan gurunya pun bisa jadi tidak mlikun kalau ditanya “jenengan ngajar dimana?”
Allah A’lam.
Minggu, 07 Juli 2019
Wolak Walike Zaman
Namun sebenarnya, terkadang cepatnya perputaran informasi justru berakibat buruk bagi kehidupan, atau setidaknya mengurangi kenyamanan. Manusia tersandera oleh kekuatan batery, wifi, kuota internet ataupun makhluk yang bernaman sinyal. Pesan-pesan WA keluarga, teman maupun urusan kerja yang tidak dibuka, atau dibuka tetapi tidak segera dibalas atau tidak dibalas sama sekali akan dinilai semacam tindakan kriminal, minimal kriminal etika. Dus manusia hampir seperti menjadi budak teknologi.
Berita-berita yang sebaiknya diterima saat sudah menjadi “basi”, justru menjadi momok karena terlalu cepat bisa diakses. Akhirnya muncul kesedihan yang bukan “pada waktunya”, atau justru gembira di “waktu yang salah”.
Maka tidak ada salahnya, dengan tanpa mengabaikan amanah kerja, tanggung jawab keluarga dan nilai persahabatan, kita sebagai manusia sesekali membuang itu semua. Jauhi area wifi, hentikan data atau yang ter-radikal lemparkan hape di bawah kolong meja, lalu apa?
Dekaplah anak dan pasangan kita, baca kembali kitab suci kita, nikmati keindahan alam di sekitar kita, atau sekedar berbaring sambil mengingat kebesaran Tuhan. Ada waktunya kita ber uzlah, menyepi, menyendiri dan menikmati itu semua, karena dalam kesunyian ada kesyahduan yang dapat dinikmati.
Allah A’lam.
Rabu, 03 Juli 2019
Pilihan & Anugerah

Manusia tidak dipaksa membuat atau bahkan menciptakan anugerah, namun ia diperintahkan untuk memilih jalan-jalan dimana anugerah tersebut dapat ditemukan. kaitannya dengan pendidikan, mereka yang menjadi pendidik maupun peserta didik diwajibkan bekerja keras untuk mewujudkan generasi yang cerdas/ berkualitas dengan segala tolok ukurnya. Para murabby tidak hanya menyampaikan pengetahuan namun juga memberikan keteladanan bahkan kalau perlu membelenggu dan menyeret-nyeret para pencari pengetahuan di zona-zona kebenaran.
Pada saat yang sama, mereka yang terdidik harus secara sabar meniti zona tersebut, apakah dengan kerelaan maupun keterpaksaan, dengan menangis terhiba-hiba atau tertawa secara sempurna. Saat kedua belah pihak telah melakukan pilihan terbaik, maka akhirnya…pasrahkan kepada Sang Maha Kuasa.
Mereka yang mendapatkan hasil memuaskan, jangan terlalu berbangga, ingat itu anugerah. Adapun bagi yang kenyataanya berbalik dengan keinginannya, jangan memaki kenyataan. Itu bukan solusi terbaik. Coba kembali renungkan, telusuri dimana kesalahan kita, insyafi, sesali kemudian taubati, itulah pilihan terbaik. Dan tidak ada yang tidak baik dari yang terbaik, meskipun itu berada dibalik kegagalan.
Allah A’lam.
Senin, 01 Juli 2019
Renungan
Kamis, 27 Juni 2019
RISALAH KELUARGA (2)
Namun di batas-batas tertentu, hal tersebut bisa mencabut keberkahan rumah tangga. Manakala keberkahan dicabut, maka rumah-rumah megah, mobil-mobil mewah dan harta lainnya yang berlimpah tidak akan mendatangkan ketenangan hakiki, akan ada banyak isakan tangis pilu, tawa kebohongan maupun senyuman palsu.
Kebaikan dimanapun itu, dalam rumah tangga tanpa terkecuali akan kembali menjadi kebaikan betapapun kecilnya, baik di dunia akhirat, atau salah satu dari keduanya. Pun begitu dengan kezaliman yang tidak tertebus dan termaafkan.
Para suami yang gemar menzalimi istrinya hendaklah segera insyaf, karena altar pengadilan Tuhan (Allah) telah dipersiapkan, dengan sabar menanti telapak kakimu sampai di sana untuk di adili.Para istri yang zalim pada suaminya, baik kerana rupa, ilmu maupun hartanya, takutlah …karena setiap angkuhmu pada suamimu ada dosa-dosa yang siap dikalungkan.
Para suami/ istri yang mengalah, untuk kebaikan maupun kelangsungan rumah tangganya sebenarnya merekalah orang-orang perkasa, yang memiliki kebesaran hati dan kekuatan jiwa. Mengubah duka menjadi tawa, menyulap pilu menjadi bahagia dan memoles kesedihan dengan tulusnya senyuman.
Dekap mereka, muliakan mereka, karena saat Tuhan (Alloh) merangkulnya dalam keharibaanNya, kamu tidak bisa berbuat apa-apa.
Allah A’lam.
Jumat, 21 Juni 2019
Nyantri itu Keren
Oleh karenanya banyak para wali berani untuk membayar lebih guna memperoleh pendidikan yang baik. Sekolah-sekolah unggulan maupun kursus merebak dimana-mana. Namun sebenarnya yang harus fikirkan oleh orang tua adalah bukan tentang kecerdasan IQ saja, karena penelitian yang ada menyebutkan bahwa keberhasilan manusia tidak semata-mata berasal kecerdasan tersebut, namun ada faktor-faktor lainnya seperti Emotional Quotient dan lain lainnya.
Membincang persoalan pendidikan terunggul maka tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pengajaran yang masih baik untuk menjadi perhitungan para siswa. Pondok merupakan satu-satunya lembaga pendidikan terlama di nusantara bahkan sebelum Indonesia lahir, sehingga telah banyak menelurkan alumni-alumni di belahan penjuru Indonesia. Terkecuali daripada itu, pesantren juga satu-satunya lembaga pendidikan yang proses pembelajarannya tidak dibatasi waktu, misalnya sejak jam 07.00 pagi sampai 12.00, melainkan 24 jam dalam sehari semalam.
![]() |
| Para Santriwati usai acara perpisahan |
hal lainnya adalah pembelajaran kedisiplinan yang terus menerus, para santri wajib mentaati semua peraturan yang ada baik berkaitan dengan tempat, di kamar mandi, di dapur, di kelas, di masjid, di kantin, di kamar tidur dan lain sebagainya. Selain peraturan tempat adalah peraturan uniform. Semua tempat dan kegiatan hampir mempunyai seragamnya sendiri agar kedisiplinan semakin terasah. Peraturan-peraturan yang tidak kalah uniknya adalah yang berkaitan dengan bahasa, dimana pada umumnya pesantren mewajibkan bahasa asing, dan ini merupaan keunggulan dunia pesantren.
keunggulan lainnya yang tidak dimiliki lembaga pendidikan pada umumnya adalah tolok ukur prestasi peserta didik. Bahwa kecerdasan bukanlah satu-satunya faktor ukuran yang membuat dia bisa naik kelas atau bahkan lulus, melainkan ada faktor penunjang lainnya, yaitu budi pekerti. Sepintar apapun seorang siswa, jika ia tidak mempunyai budi pekerti yang baik maka dipastikan tidak akan memenuhi kriteria kenaikan kelas/ lulus. Bahkan tidak jarang di pesantren yang ada menambahkan faktor hafal al qur’an. So, Sekarang adalah menguatkan tekad dan menguatkan niat, segera belajar bersama kami Pondok Pesantren MBS Ponorogo yang merupakan salah satu pesantren di Ponorogo mengajak impian pendidikan anda menjadi kenyataan, anak-anak yang cerdas, berbudi luhur dan soleh soleha.
Senin, 17 Juni 2019
Muhammad Mursi *
Pribadinya yang tidak bisa dilupakan begitu saja adalah sikap kepemimpinannya yang ramah kepada masyarakat, baik pendukung maupun oposisi. Tampuk kepemimpinannya diperoleh berbeda dengan kebanyakan pemimpin Negara-Negara Arab yang mayoritas monarki. Mursi dipilih dengan suka cita oleh separuh lebih penduduk Mesir secara demokrasi tanpa kekerasan apalagi kudeta. Saat demonstrasi berlangsung yang menuntut pengunduran dirinya, bisa saja kuasanya menjadi tangan besi sebagaimana rezim-rezim yang ada, tetapi beliau memilih jalan berbeda.
Akhir kehidupan seorang Mursi menorehkan kesedihan, bagaimana sebagian kelompok umat islam yang diperjuangkannya justru tidak bisa bersabar dipimpin oleh orang yang sabar, padahal nenek moyang mereka telah begitu pasrah ditindas oleh Fir’aun Zalim masa lalu maupun Fir’aun-Fir’aun Modern. Sebagian lagi begitu gegap gempita atas penggulingannya, karena menganggap Mursi adalah pemimpin hasil sistem demokrasi terkutuk. Mereka lupa bahwa membangun peradaban yang baik butuh proses yang tidak segampang bermimpi, dan tidak secepat mengatakan “khilafah” adalah solusi.
Setelah bertahun-tahun dipenjara oleh orang yang justru dipilihnya menjadi menjadi komandan militer, kini sang Presiden itu telah kembali keharibaanNya, bersama itu pula doa-doa terpanjatkan. Mungkin Allah lebih sayang kepadaNya dari pada kita, lalu merengkuhnya dalam dekapan kasihNya.
Rabbena yukrimak fi ri'ayati rahmatih Ya Raisna...
Kamis, 13 Juni 2019
Kaffah Ber-Islam*
Artinya, “Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (Surat Al-Baqarah ayat 208).” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, At-Tafsirul Wajiz, [Damaskus, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 33).
Ayat tersebut di atas menegaskan perintah ber-islam secara kaffah, dimana arti kata ‘kaffah’ berarti seluruhnya tanpa kecuali. Namun demikian, pemaknaan dari keseluruhan ayat tersebut tidak terlepas dari perbedaan perbedaan yang ada. Sebagian orang mengartikan dengan dengan kembali ke Al-Quran dan hadits, bahkan termasuk pada level pembentukan negara Islam. Sebagian lagi mengartikan dengan pendekatan tata bahasa arab dimana kata ‘kaffah’ pada kalimat ini adalah hal.
2 (dua) kemungkinan makna ditemukan berkaitan dengan hal tersebut di atas, yaitu pertama “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semua tanpa kecuali ke dalam Islam”. Ini terjadi manakala kata ‘udkhulu’ sebagai shahibul hal dari kata ‘kaffah’. Kedua adalah “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam seutuhnya.” Hal ini terjadi manakala shahibul hal adalah kata ‘fis silmi’.
Keluar dari beberapa pemaknaan di atas, makna kaffah saya pinjam untuk diilustrasikan dengan perwujudan manusia yang elok. Keelokan manusia tersebut ditunjukkan dengan memiliki beberapa hal, yaitu: nyawa, alas kaki dan tutup kepala, baju, celana dan ikat pinggang. Artinya, point-point tersebut harus ada. Tidaklah ia dikatakan sebagai manusia tanpa mempunyai nyawa, dan tidak pula dikatakan elok manakala hanya mempunyai nyawa, namun tidak berpakaian.
Islam Kaffah yang secara makna adalah sempurnya, setidaknya harus memenuhi syarat-syaratnya, yaitu pengamalan 5 (lima) rukun islam. Syahadat sebagaimana nyawa pada diri manusia, bahwa tidak mungkin disebut islam tanpa pelaksanaannya. Dan pengucapan/ pengikraran islam lewat syahadat meskipun sudah disebut muslim belumlah sempurna, ia perlu melakukan rukun islam lainnya, yaitu sholat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu.
Sholat bagaikan baju, zakat bagaikan alas kaki serta tutup kepala, puasa bagaikan celana, dan haji bagaikan ikat pinggang. Artinya, orang yang bersyahadat semata-mata namun tidak mau melakukan 4 (empat) rukun islam setelahnya bagaikan manusia hidup namun bertelanjang bulat. Ia tidaklah elok sebagai manusia/ tidak kaffah islamnya.
Lalu bagaimana dengan tingkatan iman?
Kualitas keimanan dapat dilihat dari kualitas pelaksanaan rukun islamnya sebagaimana kualitas ke elokan manusia (secara dhahir) dapat ditunjukkan dengan baju yang bagaimana yang dipakai, begitu juga celana, ikat pinggang dan seterusnya. Bahwa setiap orang mungkin bisa memakai baju, tetapi kualitasnya bisa jadi tidaklah sama, begitu juga dengan iman dan islam dari pelaksanaan rukun rukunya.
Allah A’lam.
*Di Sampaikan Oleh Pengasuh Pondok Pesantren MBS Ponorogo.
Rabu, 12 Juni 2019
Munajat*
Dosa dosa dan pahala kita berkejar-kejaran di setiap hari, namun mulut masih bisa tertawa terbahak bahak
Detik detik kematian semakin dekat, tetapi terkadang langkah kaki kita semakin menjauh dari RahmatNya
Syetan kita kutuk dalam doa-doa sepanjang waktu, tetapi perilaku kita mengikuti jejak-jejaknya
Allah...
tanpa TaufiqMU, dosa-dosa kami akan menutupi semua kesalehan yang pernah ada
tanpa Kasih SayangMu, tak ada harapan dapat mencicipi SyurgaMu..
KepadaMu kami kembali
KepadaMu kami berserah diri
di hari fitri bulan syawal ini
Oleh:
Umarwan Sutopo
Pengasuh Pondok Pesantren MBS Ponorogo.
Selasa, 02 Oktober 2018
Toleransi Otentik
Senin, 06 Agustus 2018
Makna Istirja'
MAKNA ISTIR’JA’
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157).
انَا لله
Sesungguhnya kami adalah milik Allah, karena kehendakNya kami ada dan tanpanya maka ketidaaanlah yang ada.
Sesungguhnya milik kami adalah milikNya, titipannya, tanpa kemurahannya, kita tidak memiliki apapun untuk diakui sebagai milik. Harta benda, Keluarga, bahkan pekerjaan maupun jabatan.
و انا اليه راجعون
Dan sesungguhnya kami serta apa yang kami akui sebagai milik, semuanya akan kembali padanya. Jiwa, raga, harta benda, keluarga, harta, jabatan dan lain sebagainya.
Mereka yang mampu memahami dan menginsyafi istirja’ akan menemukan kebaikan dalam hidupnya. Karena menyadari bahwa semua hal dikembalikan kepada Allah. Kepemilikan yang diakui sebagai titipan, baik kecerdasan akal, keelokan dan keindahan tubuh, berlimpahnya harta benda, anak cucu, maupun gelar, pekerjaan dan pangkat yang dimiliki semata-mata hanyalah karunia yang dititipkan Allah. Usaha manusia untuk mendapatkannya hanya sebatas memproses, bukan menghasilkan/ menentukan hasil. Dengan demikian, maka rasa sombong, riya’ maupun ujub bisa diminimalisir maupun dihindari. Tidak muncul “akuisme”, mengaku-aku.
Mereka yang mampu memahami dan menginsyafi konsep Istirja, akan berada dalam kebaikan dan menuju kebaikan selanjutnya, karena ia akan bersama Allah dan untuk Allah. Kehidupannya, harta bendanya, jabatannya dan semua yang ia miliki. Mendapatkannya tidak menimbulkan kesombongan, dan melepaskannya tidak menimbulkan kekecewaan. Karena tidak ada kecewa terhadap kehendak Allah bagi orang muslim, yang ada adalah ridho dan ihlas. Ridho dan ihlas.
Allah A’lam.
Rabu, 02 Mei 2018
Muhasabah
Kamis, 05 April 2018
Manusia dan Keinginannya
Pasangan, atau tambahannya
Anak keturunan atau tambahannya
Jabatan, atau tambahannya
Harta, atau tambahannya
Umur dan tambahannya
Entah karena atas dasar “ketamakannya” atau “kebutuhannya” atau sekedar “keinginannya”.
Kalau sekedar rasa” tamak dan ingin”, bukankah jawaban atas permintaan hanyalah“rasa memiliki” dan secuil kenikmatan?
Sementara yang memiliki akan kehilangan,
Sementara tanggung jawab atas kepemilikan adalah amanah,
Dan sementara amanah pasangan, anak, jabatan maupun harta yang termiliki belum tentu tertunaikan.
Adakah manusia yang meminta untuk tidak meminta lagi
dalam keterbatasannya ia merasa cukup
dalam kesempitannya ia merasa lapang
dan..
dalam kesedihannya ia merasa bahagia
Jumat, 12 Januari 2018
Memaknai Kebahagiaan
Menyelesaikan Diri Sendiri
Rabu, 27 Desember 2017
Catatan Pendidik di Akhir Tahun
Jumat, 10 November 2017
Tuan Guru
“Tuan Guru, kapan waktunya hamba boleh membuka”. Kata seorang cantrik kepada gurunya pada pertemuan yang ke 40 kalinya sore itu.
“Kalau kamu sudah mampu menutupnya kembali anakku”.
“Kenapa, bukankah aku manusia, aku membuka hanya ingin melihat dunia, mengenal cinta dan memiliki sesuatu layaknya manusia lainnya Tuan Guru..”.
“Anakku, meski membuka bukan persoalan mudah, tetapi menutuppun tidak lebih mudah daripada membuka. Kamu harus belajar banyak nak…Ada yang banyak membuka matanya atas keelokan dunia, lalu ia silau dan tidak ingin menutupnya kembali, bahkan sampai akhirnya, usialah yang menutupnya kembali dengan paksa. Ada pula yang membuka hatinya untuk mengenal cinta, dan ia terpesona olehnya sampai-sampai cinta itu menutupi hatinya. Ada juga yang membuka keinginannya untuk menjadi ini dan itu, memiliki ini dan itu, lalu ia tidak mampu menutupnya kembali, sampai keinginan-keinginan itulah yang akhirnya membunuhnya sendiri “.
“Apakah kamu sudah mengerti Nak, sebagian pengetahuanmu terkadang membelenggumu, sebagian pengertianmu justru menyiksamu, dan diantara milikkmulah yang merenggutmu. Berhati-hatilah untuk tahu dan mengerti, untuk memiliki dan mendapatkan, sebab jika kearifanmu tidak mampu mengendarainya, itu semua adalah awal dari penyesalanmu. Menyesal karena telah mengerti, menyesal karena telah mengetahui, menyesal karena telah mendapatkan, dan menyesal karean telah memiliki”.
Tamat.
Kamis, 02 November 2017
RUWET
..bersambung.





















