Translate

KI TOPO JOYO BINANGUN

HIDUPLAH DALAM GERAKAN KEBENARAN AGAR ENGKAU DIMASUKKAN DALAM GOLONGAN ORANG-ORANG YANG BENAR, MESKI SAAT INI KAMU BUKANLAH ORANG YANG BENAR.

Pantai Alexanderia Egypt

Demi masa, Manusia dalam kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Masa Laloe

Anda tidak mungkin lagi merubah masa lalu, yang mungkin anda lakukan adalah meratapinya atau mensyukurinya untuk pijakan menatap masa depan.

Benteng Sholahuddin Al Ayyubi Alexanderia

Bersama KH. Fathullah Amin LC.

Al Azhar Conference Center (ACC)

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 21 Februari 2021

Jadwal Ujian Prop-II

 




Senin, 12 Oktober 2020

Ideologi, Cinta dan Peperangan

 Tae Guk Gi

(Persaudaraan Perang)











Syahdan, Jin Tae hidup bersama ibunya, Seorang janda tuna wicara dan adiknya Jin Seok yang jantungnya penyakitan. Waktu itu 1950an, Korea masih negara miskin, lepas penjajahan jepang, kehidupan sulit dan rawan konflik antar sayap kiri (komunis) VS sayap kanan pimpinan Syingman Rhee. Ibu Tae sehari-hari ditemani Kim Young Shin, seorang gadis yang rencananya kelak di nikahi Tae. Shin selain merawat calon ibu mertua juga merawat 2 adik kecilnya. Tae sendiri rela putus sekolah dan mengais rizki sebagai penyemir sepatu menggantikan peran seorang ayah yang sudah wafat.

Kesulitan hidup keluarga Tae tidak mengusir kebahagiannya melihat sang adik bisa sekolah, ibu dan calon istrinya bisa makan, mereka hidup gembira dalam kesederhanaan sampai pecah perang saudara. Korut melakukan invansi darat dan udara atas nama “Perang Pembebasan Tanah Air”. Sejumlah 231.000 pasukan dengan peralatan tempur yang memadai berhasil menguasai Kaesŏng, Chuncheon, Uijeongbu, dan Ongjin.

Perang meletus, suasana mencekam, rumah dibakar, suara bom dan mesiu menteror, penduduk mengungsi termasuk keluarga Tae. Di tengah perjalanan, pasukan Korsel menyisir para pengungsi, semua laki-laki dewasa wajib bela negara. Ibu Tae, Shin, dan kedua adiknya menangis, menghiba, meratap hingga akhirnya melepas dengan pandangan kosong saat Tae dan Seok dibawa paksa tentara.

Beban Shin bertambah, kelaparan di depan mata dan pasukan korut benar-benar menguasai kota, mengusir tentara selatan, memaksa penduduk menjadi agen-agen propaganda komunis dengan imbalan makan atau hukuman kematian. Pilihan yang sulit di masa yang sulit bagi mereka, termasuk Shin, bayang-bayang kematian kedua adiknya membuatnya bertekuk lutut pada kuasa komunis meski tidak pada idiologinya.

Di sisi lain, usaha Tae agar adiknya dipulangkan sia-sia, kecuali ia mampu mendapatkan medali perang. Dari sini bermula, Tae melakukan apa saja agar Seok, adiknya tidak mati. Naluri membunuhnya tumbuh cepat melihat kekejaman pasukan korut membantai warga sipil tak berdosa. Kebenciannya terhadap semua bau komunis menyala-nyala. Tetangganya sendiri, mati di tangannya gegara mau dipaksa jadi penyokong korut. Naluri perang, membunuh atau dibunuh telah bersemayam. Seok sendiri mulai menyayangkan sikap kakaknya yang awalnya laki-laki sabar dan sederhana berubah menjadi pembunuh berdarah dingin.

Eskalasi perang berubah saat sekutu mulai membantu korea selatan, pasukan korut hancur, Pyongyang pun jatuh. Tae akhirnya berkesempatan mengunjungi keluarganya, malang  tak dapat ditolak, justru saat ia menginjakkan kaki di pelataran rumah, Shin kekasihnya digelandang kelompok pemuda anti komunis untuk dieksekusi mati bersama puluhan warga lainnya. Tae dan Seok idak tinggal diam, mereka terlibat perselisihan dengan kelompok tersebut, jasa mereka dalam peperangan korea tidak menghalangi kematian Shin, dan mereka berdua ditahan militer karena dianggap pro komunis.

Tae memohon agar adiknya Seok dilepaskan, namun bukannya dilepas, justru sipir penjara memerintahkan supaya penjara berikut tahanan dibakar sebelum tentara Tiongkok pro korut tiba. Benih-benih kebencian Tae terhadap Korea Selatan tumbuh di puing-puing reruntuhan penjara, diantara  jasad para tawanan yang sudah menjadi abu. Kekasihnya di bunuh, adiknya dibakar..maka tidak ada alasan cinta pada negara yang telah merenggut semua kebahagian hidupnya, sebagai penyemir sepatu, sejatinya dia juga tidak faham apa itu komunis dan bukan komunis, demokrasi dan bukan, yang ia tahu bahwa hidup haruslah damai dan kekejaman siapapun tidak boleh dilakukan oleh siapapun. Akhirnya Ia bergabung dengan pasukan korut untuk melawan kekejaman rezim Syingman Rhe di divisi pasukan bendera. Dus..Tae didakwa pengianat negara.

Juli, 1951 di Rumah Sakit Militer Tae Jeon Korea selatan,  Seok yang selesai perawatan mendengar kabar bahwa kakaknya dicap penghianat, rupanya ia selamat dari pembakaran karena ditolong lolos oleh teman kakaknya ketika kobaran api melahap kamp tahanan. Ia tahu bahwa Tae tidak faham tentang idiologi, keberpihakannya pada korut tidak ada kaitannya dengan itu, melainkan kekecewaanya atas kekejaman tentara korsel terhadap kekasih dan adiknya yang tidak berdosa. Atas dasar itulah Seok bersikeras masuk area pertempuran Dumillyong, tidak lain dan tidak bukan untuk mengkabarkan kepada Tae  bahwa ia masih hidup dan membawanya pulang kembali ke korsel.

Seok berlari menyusuri parit pertahanan musuh, menyusup diantara baku tembak, letusan granat,  desingan peluru, muntahan mortir dan mayat-mayat yang bergelimpangan dari kedua belah pihak. Usahanya untuk sampai di basis pasukan bendera korut tidak sia-sia. Ia amat hafal dengan dengan gaya gerakan kakaknya meskipun dibalik baju kotor, penuh debu, darah dan topi tentara kusamnya itu. Sebaliknya Tae tidak, ia sudah yakin adiknya tewas terbakar, sejurus kemudian Tae menyerang pemuda yang memandanginya itu yang tak lain adalah adiknya sendiri sampai-sampai belatinya hampir memenggal adiknya seandainya sang adik tidak berteriak bahwa dirinya adalah adiknya.

Pergulatan penuh amarah berubah menjadi pelukan rindu, haru dan tangisan sesenggukan kakak beradik. Tae begitu menyayangi adiknya, dan Seok pun demikian kepada kakaknya, namun kecamuk perang tidak mungkin membiarkan 2 kubu tentara berpelukan damai, hanya beberapa saat Tae memaksa adiknya mundur sebab pasukan korut akan perang habis-habisan meskipun jelas-jelas kalah, ia tak ingin adiknya mati atas kebengisan kawan-kawannya.

Akhirnya, setelah Tae berjanji untuk selamat, Seok melepas pelukannya, dengan deraian air mata ia merayap mundur. Tae kakaknya berbalik menembaki pasukan korea utara yang hendak mengejar adiknya, akibatnya hanya selang beberapa menit ia menjadi sasaran tembak pasukan korut dan korsel sekaligus. Tubuhnya yang telah rapuh oleh peperangan menjadi mortir adiknya, gugur entah sebagai pasukan korea utara, atau korea selatan.

Berpuluh tahun kemudian, Seok pun telah tua dan menjadi veteran perang, selama itu pula ia menunggu Tae, kakaknya yang dulu pernah berjanji untuk hidup dan akan mengunjunginya. Penantiannya tak pernah surut, harapannya tak pernah padam meski ada sebetik rasa bahwa sang Kakak yang begitu menyayanginya telah gugur.

..

Semoga menjadi ibrah buat anak-anak muda yang belum mengerti arti kedamaian dan para pemimpin yang haus kekuasaan.

Senin, 29 Juni 2020

Tipologi Lembaga Pendidikan Islam


Jika sementara ini standar lembaga pendidikan (islam) ditimbang melalui akreditasinya, baik A, B ataupun nominal jumlah muridnya, maka tulisan ini mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari budaya pendidikan yang diterapkan. Hanya saja karena penulisnya bukan pakar pendidikan, seandainya netizen yang terhormat tidak percaya, maka tidak mengapa, anggap saja ini mbeleges semata-mata .


Dari pengamatan tipis-tipis saya, maka lembaga pendidikan itu setidaknya bisa dikategorikan dalam 3 (tiga) kelompok besar, yaitu Pendidikan Kader, Pendidikan Setengah Kader, Pendidikan Seger Waras Full  Andum Slamet.

Nah berikut ini penjelasan mbelegedes-nya.

Pertama, Pendidikan Kader (Peka)

Lembaga yang termasuk PeKa bisa dilihat dari konsitensinya memperjuangkan ciri khas pendidikannya, tidak mudah ganti kurikulum atau kesusu ikut trend-trend pendidikan terbaru. Diantara ciri-ciri dasarnya adalah totalitas masing-masing dari wali, siswa dan pendidik/ lembaga dengan 4 (empat) T-nya, yaitu  Tego, Tatag, Tutuk dan Titis.

Tego (tega), artinya wali murid yang memasukkan ke lembaga ini biasanya pasrah bongkokan (memasrahkan sepenuhnya), mereka sudah insyaf/ bisa diinsyafkan bahwa proses pendidikan  tidak boleh ada campur tangan/ disandera secara langsung maupun tidak langsung baik dengan uang, pengaruh maupun pangkat jabatan yang dimiliki wali santri.

Tatag (tidak canggung), Artinya memiliki keberanian dalam memproses anak didik. Tidak ragu, tidak canggung, tidak takut. Tidak perduli anak orang kaya, miskin, semua di depan pendidikan berderajat sama. Saat benar dikuatkan, diapresiasi,  saat salah dibina, dan yang memang tidak mau maka dibinasakan (keluarkan). Tatag artinya mengerahkan daya upaya (uang, pemikiran, mujahadah) agar lembaga tidak hanya punya fasilitas yang patut untuk dianggap excelent, tetapi para pendidiknya juga bisa merasakan ihlas dan puas dalam mendidik. Tatag artinya tidak merasa canggung dengan ciri khas/ ke unikan yang dimiliki. Karena hal yang kuno misalnya, bagi sebagian orang justru tidak jarang unik dan apik bagi yang lain. Begitu pula hal yang bersifat baru/ modern. Ibarat setiap menu makanan, mempunyai penggemarnya masing-masing yang akan mencarinya.

Tutug (tuntas), maksudnya adalah para siswa yang masuk di lembaga model ini mayoritas memang sudah nawaitu. Tidak hanya mau membayar, namun juga belajar, mau bersaing, mau didik untuk sampai selesai (tuntas). Tutug tegese para pendidik dan lembaga tidak berhenti mengajar dan mendidik setelah lonceng tanda pulang berbunyi, melainkan berlanjut dengan hantaran doa mujahadah di keheningan malam para murrabby.

Titis (mengena), Out put dari lembaga ini seperti bacaan idhar (jelas) mudah dilihat, kalau keunggulannya bahasa, maka bahasanya maju dengan konsekuensi mungkin faktor lainnya mundur, tapi jelas ada yang titis di satu bidang unggulan, tidak abu-abu atau samar-samar seperti ikhfa’ haqiqi. Titis, lulusannya mampu menjawab dengan penuh keyakinan pertanyaan “kamu  bisa apa/ membuat apa/ berbuat apa?”


Karena model pendidikan kader (PeKa)begitu istimewah, maka kompetensi keilmuannya rata-rata cukup bagus. Imbasnya ke luar dengan izin Allah, grafik daya tarik pasar/ peminat pelan-pelan tapi pasti akan naik-naik dan semakin naik. Adapun ke dalam, kebanggaan dan cintanya pada almamater tidak diragukan lagi, baik oleh santri/ siswa, guru/ ustadznya, bahkan para wali pun bisa merasa sah untuk Ge Er karena punya anak bisa belajar di sana.


Ke Dua Pendidikan Setengah Kader (PSK)

Pola lembaga pendidikan ini lebih  banyak dijumpai di masyarakat kita. Dinamakan setengah kader, karena tidak meninggalkan sebagian ciri pengkaderan, namun demikian budaya pendidikannya mulai kurang konsisten/ istiqomah terhadap bentuk out put anak didiknya. Jadi mirip-mirip lagunya Armada Band, mau dibawa kemana hubungan kita?

Pasalnya, orientasi hasil pendidikan merujuk kepada kebutuhan pasar yang lagi trend. Lagi trend boarding school, rame-rame ikut boarding school, lagi trend sekolah berbasis tahfidz al qur’an, rame-rame ikutan, lagi trend berbasis life skill, rame-rame ikutan. Dan seterusnya.

Salahkah?

Tentu tidak sepenuhnya, barangkali itu adalah ijtihad terbaik dari pengelola lembaga untuk mengikuti arus zaman. Karena petuah bijak menyatakan, “segala sesuatu ada masanya, baik nge hit atapun suram, maka pandai-pandailah mengambil keputusan di momen yang tepat”. Terkecuali daripada itu, memang tidak dipungkiri bahwa perubahan zaman, situasi dan kondisi harus dijawab melalui perubahan model pendidikan oleh para pendidik/ lembaga pendidikan. Mereka yang tidak mau berubah bukan tidak saja mungkin tertinggal, bahkan lebih parah akan tergilas zaman. Betapa banyak pesantren salafiah di kampung-kampung yang menjadi al marhum, bahkan SDN-SDN yang biayanya ditanggung negara kukut di beberapa tahun terakhir ini. Kenapa? Jawabannya adalah karena “jumud”, tidak mampu merespon perkembangan zaman.


Perubahan model pendidikan memang perlu, namun jika tidak benar-benar matang dan sekedar bereuforia, ikutan rame-rame maka imbasnya kembali kepada lembaga sendiri, orang akan susah mengidentifikasikan bentuk lulusan. Ahli di bidang tertentu juga tidak, tidak ahli sama sekali juga tidak dan akhirnya out put nya pun tidak titis.


Ketiga, Pendidikan Full Seger Waras Andum Slamet.

Pendidikan ini dinilai paling banyak dari pada model pertama dan ke dua.  Biasanya mempunyai semboyan “daripada tidak”. Daripada tidak sekolah, daripada tidak ada gurunya, daripada tidak ada siswanya, daripada dan daripada. So imbasnya bisa dibayangkan, betapa mengurusi lembaga macam ini seperti pepatah  makan buah simalakama. Tidak diurusi eman-eman daripada mati, kalaupun diurusi kok layamutu wala yahya, tidak bermutu dan banyak biaya. Namun demikian, tetap harus dipertahankan karena keberadaanya adalah rahmat bagi semesta mereka yang punya semboyan “daripada tidak”.

Merahmati mereka yang daripada tidak sekolah
Merahmati mereka yang daripada tidak mengajar
Merahmati mereka yang daripada tidak disekolahkan anak-anaknya
Merahmati, dan merahmati.
Bukankah menabur rahmat adalah kemuliaan?

Maka model lembaga ini tidak boleh dibasmi, harus dibiarkan atau justru dibantu sampai masanya berubah, atau jika tidak.harus direlakan mati dengan sendirinya.

Tipe-tipe wali yang ada di lembaga ini beragam, ada yang toto dan ada yang kurang Toto. Mereka yang kurang toto itu kadang seperti ahlinya ahli, corenya the core sehingga sering protes terkait kebijakan, harus beginilah, kurang begitulah, apalagi jika anaknya dapat masalah di sekolah. Malang malang putung, rawe-rawe rantas, labrak sampai tuntas. Jadi selain tidak toto, tidak juga tego.

Ada pula type walinya yang seperti orang parkir sepedah, yang penting bayar  maka semuanya dianggap beres. Jadi setelah dipasrahkan anaknya di lembaga, entah mau jadi apa dan bagaimana perkembangan si anak…allahu a’lam, yang penting sudah bayar, dan bahkan ada juga type wali yang agak kelewatan. Untuk iuran berat, tapi kalau urusan shooping, jalan-jalan..jangan tanya lagi, pokoknya aaashiiaaap.

Sementara itu, para pendidiknya juga tidak bisa tutug, dari mendidik sebagai sebuah kewajiban, berubah menjadi mengajar sebagai rutinitas dan patut-patut. Kadang masuk, kadang tinggal derep. Lha bagaimana tidak, wong ngajar tidak dibayar sepatutnya, maka mengajarnya pun akhirnya seperlunya. Pas perlu ngajar ya ngajar, pas perlu kerja ya kerja.

Para pendidik juga tidak bisa tatag, Bagimana tidak, ada aura takut kehilangan murid, takut dimarahi orang tua siswa, takut tidak dapat bantuan, takut dan takut. Pada akhirnya murid-murid seger waras pun ambil kesempatan, masuk sekenanya, belajar seingatnya, dan ujian sebisanya, wong daripada tidak sekolah.
Jadi pendidikan model ini sungguh berjalan ala kadarnya daripada tidak berjalan, yang penting slamet dan seger waras, maka tidak heran hasilnyapun tidak benar-benar titis. Imbas keluar, masyarakat tidak akan bernafsu pada lembaga tersebut kecuali mereka yang punya slogan “daripada tidak”. Adapun efek ke dalam, jangan bicara tentang kebanggaan dan cinta muridnya pada almamater, bahkan gurunya pun bisa jadi tidak mlikun kalau ditanya “jenengan ngajar dimana?”


Allah A’lam.

Minggu, 07 Juli 2019

Wolak Walike Zaman

Perkembangan teknologi terutama bidang media komunikasi memberikan banyak kemudahan.   Joni Phon Sen misalnya, setiap hari menyambung rindu  dengan Dewi Mejowati, Istri tercintanya. Jauhnya Korea dan Jawa tertembus dengan aplikasi WA dan pulsa internet 1 GB saja. Bertolak jauh dengan zaman Raden Abi Manyu, Raja Hayam Wuruk maupun Kang Paijo si pemilik ternak wedus.

Namun sebenarnya, terkadang cepatnya perputaran informasi justru berakibat buruk bagi kehidupan, atau setidaknya mengurangi kenyamanan. Manusia tersandera oleh kekuatan batery, wifi, kuota internet ataupun makhluk yang bernaman sinyal. Pesan-pesan WA keluarga, teman maupun urusan kerja yang tidak dibuka, atau dibuka tetapi tidak segera dibalas atau tidak dibalas sama sekali akan dinilai semacam tindakan kriminal, minimal kriminal etika. Dus manusia hampir seperti menjadi budak teknologi.

Berita-berita yang sebaiknya diterima saat sudah menjadi “basi”, justru menjadi momok karena terlalu cepat bisa diakses. Akhirnya muncul kesedihan yang bukan “pada waktunya”, atau justru gembira di “waktu yang salah”.

Maka tidak ada salahnya, dengan tanpa mengabaikan amanah kerja, tanggung jawab keluarga dan nilai persahabatan, kita sebagai manusia sesekali membuang itu semua. Jauhi area wifi, hentikan data atau yang ter-radikal lemparkan hape di bawah kolong meja, lalu apa?

Dekaplah anak dan pasangan kita, baca kembali kitab suci kita, nikmati keindahan alam di sekitar kita, atau sekedar berbaring sambil mengingat kebesaran Tuhan. Ada waktunya kita ber uzlah, menyepi, menyendiri dan menikmati itu semua, karena dalam kesunyian ada kesyahduan yang dapat dinikmati.

Allah A’lam.

Rabu, 03 Juli 2019

Pilihan & Anugerah

Kecerdasan adalah anugerah, namun kesungguhan untuk menjadi cerdas merupakan pilihan sekaligus perintah. Hal ini hampir semakna dengan statemen “Rupawan adalah Anugerah, tetapi berwajah cerah adalah perintah dan pilihan”. Pernyataan tersebut menyelipkan pemahaman bahwa dalam kehidupan manusia ada 2 (dua) hal yang harus disikapi berbeda, yaitu pilihan dan anugerah. Pilihan adalah sikap dan tindakan-tindakan manusia untuk mendapatkan anugerah (keberuntungan, kesuksesan, kejayaan), sementara anugerah adalah kondisi dimana manusia mendapatkannya baik dengan usaha maupun tanpa usaha sama sekali.

Manusia tidak dipaksa membuat atau bahkan menciptakan anugerah, namun ia diperintahkan untuk memilih jalan-jalan dimana anugerah tersebut dapat ditemukan. kaitannya dengan pendidikan, mereka yang menjadi pendidik maupun peserta didik diwajibkan bekerja keras untuk mewujudkan generasi yang cerdas/ berkualitas dengan segala tolok ukurnya. Para murabby tidak hanya menyampaikan pengetahuan namun juga memberikan keteladanan bahkan kalau perlu membelenggu  dan menyeret-nyeret para pencari pengetahuan di zona-zona kebenaran. 

Pada saat yang sama, mereka yang terdidik harus secara sabar meniti zona tersebut, apakah dengan kerelaan maupun keterpaksaan, dengan menangis terhiba-hiba atau tertawa secara sempurna. Saat kedua belah pihak telah melakukan pilihan terbaik, maka akhirnya…pasrahkan kepada Sang Maha Kuasa.

Mereka yang mendapatkan hasil memuaskan, jangan terlalu berbangga, ingat itu anugerah. Adapun bagi yang kenyataanya berbalik dengan keinginannya, jangan memaki kenyataan. Itu bukan solusi terbaik. Coba kembali renungkan, telusuri dimana kesalahan kita, insyafi, sesali kemudian taubati, itulah pilihan terbaik. Dan tidak ada yang tidak baik dari yang terbaik, meskipun itu berada dibalik kegagalan.

Allah A’lam.

Senin, 01 Juli 2019

Renungan

Sepulang dari sholat duhur di Masjid IAIN Ponorogo, berpapasan dengan 2 (ekor) burung perkutut cantik yang sedang bermain-main di selatan gedung Wathoe Dhakon, keduanya asyik sembari berjemur di atas rerumputan. Uniknya burung tersebut tidak terbang ketika dilewati sampingnya, tidak seperti burung-burung pada umumnya. Ada kebahagiaan tersendiri melihat satwa tersebut dengan damai bisa hadir dalam ruang-ruang dimana manusia sibuk di sana.

Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama, dari jauh tampak 2 (dua) anak mahasiswa mengintai keberadaan burung tersebut, dan salah satunya mengambil batu kecil sambil mengendap-endap. “Mas bene..mesakne”, Kataku. Ada kekhawatiran ketika batu itu mulai diarahkan ke hewan yang tak berdosa tersebut. 

Innalillah.. 
Kenapa manusia seperti itu?

Apa dosa hewan tersebut sehingga ketenangannya harus diusik?
Apa kesalahan hewan tersebut sehingga kedamaiannya harus diusir?
Tidak cukupkah dunia yang luas ini tempat bermain manusia, sehingga tidak ada sejengkal pun bagi mahkluk sekecil itu?
Tidak cukupkah? 
Masya Allah,.. 
Ada banyak kebahagiaan yang bisa diambil manusia tanpa harus membuat korban. 
Ada banyak kepuasan yang bisa dimiliki tanpa harus menyakiti apapun, bahkan mahluk yang bernama hewan sekalipun. 

Kita manusia harus menjadi makhluk penebar kebaikan dan kemaslahatan. Apalagi kita, orang orang awam yang dosanya dan pahalanya setiap hari berkejar-kejaran, harus tanpa bosan berusaha mengetuk pintu-pintu rahmatNya melalui banyak kebaikan. Membuang sampah pada tempatnya, menepati janji, memberi makan kucing, membiarkan burung-burung terbang dengan bebas, berkata-kata baik dan seterusnya, karena kita tidak pernah tahu dari pintu kebaikan mana Tuhan (Allah) memasukkan kita ke dalam syurgaNya. Allah A’lam.

Kamis, 27 Juni 2019

RISALAH KELUARGA (2)

Perseteruan-perseteruan kecil yang terjadi dalam bahtera rumah tangga dalam batas yang wajar adalah romantika kehidupan, ia tidak bisa diusir, dibuang dan diasingkan ke ruang yang berbeda sama sekali, justru positifnya terkadang mampu membawa kemajuan berfikir, kedewasaan, pengetahuan maupun ekonomi.

Namun di batas-batas tertentu, hal tersebut bisa mencabut keberkahan rumah tangga. Manakala keberkahan dicabut, maka rumah-rumah megah, mobil-mobil mewah dan harta lainnya yang berlimpah tidak akan mendatangkan ketenangan hakiki, akan ada banyak isakan tangis pilu, tawa kebohongan maupun senyuman palsu.

Kebaikan dimanapun itu, dalam rumah tangga tanpa terkecuali akan kembali menjadi kebaikan betapapun kecilnya, baik di dunia akhirat, atau salah satu dari keduanya. Pun begitu dengan kezaliman yang tidak tertebus dan termaafkan.

Para suami yang gemar menzalimi istrinya hendaklah segera insyaf, karena altar pengadilan Tuhan (Allah) telah dipersiapkan, dengan sabar menanti telapak kakimu sampai di sana untuk di adili.
Para istri yang zalim pada suaminya, baik kerana  rupa, ilmu maupun hartanya, takutlah …karena setiap angkuhmu pada suamimu ada dosa-dosa yang siap dikalungkan.

Para suami/ istri yang mengalah, untuk kebaikan maupun kelangsungan rumah tangganya sebenarnya merekalah orang-orang perkasa, yang memiliki kebesaran hati dan kekuatan jiwa. Mengubah duka menjadi tawa, menyulap pilu menjadi bahagia dan memoles kesedihan dengan tulusnya senyuman.
Dekap mereka,  muliakan mereka, karena saat Tuhan (Alloh) merangkulnya dalam keharibaanNya, kamu tidak bisa berbuat apa-apa.

Allah A’lam. 

Jumat, 21 Juni 2019

Nyantri itu Keren

Pendidikan baik saat ini merupakan kebutuhan pokok bagi manusia pada umumnya hingga Indonesia tanpa terkecuali. Apalagi jika hal tersebut dikaitkan dengan persaingan global di saat ini. Lapangan pekerjaan yang sedikit semakin diperebutkan oleh para pencari kerja dengan perbandingan yang sangat tidak sesuai sehingga mengakibatkan pengangguran dimana-mana, apalagi yang paling parah adalah kerusakan moral anak-anak penerus bangsa, narkoba menjadi-jadi, perjudian, sex bebas serta bahkan lesbian, gay, biseksual dan transgender.
Oleh karenanya banyak para wali berani untuk membayar lebih guna memperoleh pendidikan yang baik. Sekolah-sekolah unggulan maupun kursus merebak dimana-mana. Namun sebenarnya yang harus fikirkan oleh orang tua adalah bukan tentang kecerdasan IQ saja, karena penelitian yang ada menyebutkan bahwa keberhasilan manusia tidak semata-mata berasal kecerdasan tersebut, namun ada faktor-faktor lainnya seperti Emotional Quotient dan lain lainnya.
Membincang persoalan pendidikan terunggul maka tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pengajaran yang masih baik untuk menjadi perhitungan para siswa. Pondok merupakan satu-satunya lembaga pendidikan terlama di nusantara bahkan sebelum Indonesia lahir, sehingga telah banyak menelurkan alumni-alumni di belahan penjuru Indonesia. Terkecuali daripada itu, pesantren juga satu-satunya lembaga pendidikan yang proses pembelajarannya tidak dibatasi waktu, misalnya sejak jam 07.00 pagi sampai 12.00, melainkan 24 jam dalam sehari semalam.
Para Santriwati usai acara perpisahan
Kebaikan pendidikan pesantren bukan hanya karena faktor lamanya waktu pembelajaran dalam sehari semalam, namun juga disebabkan banyak hal pendukung lainnya dimana hal tersebut dapat dipetakan ke beberapa aspek. Pertama bahwa di pondok para santri mempunyai orang tua yang selalu berdekatan dengan dirinya, yaitu selain para guru dan ustadz, ada seorang pengasuh/ kyai pesantren yang tidak lain adalah sosok sentral di dalamnya.
hal lainnya adalah pembelajaran kedisiplinan yang terus menerus, para santri wajib mentaati semua peraturan yang ada baik berkaitan dengan tempat, di kamar mandi, di dapur, di kelas, di masjid, di kantin, di kamar tidur dan lain sebagainya. Selain peraturan tempat adalah peraturan uniform. Semua tempat dan kegiatan hampir mempunyai seragamnya sendiri agar kedisiplinan semakin terasah. Peraturan-peraturan yang tidak kalah uniknya adalah yang berkaitan dengan bahasa, dimana pada umumnya pesantren mewajibkan bahasa asing, dan ini merupaan keunggulan dunia pesantren.
keunggulan lainnya yang tidak dimiliki lembaga pendidikan pada umumnya adalah tolok ukur prestasi peserta didik. Bahwa kecerdasan bukanlah satu-satunya faktor ukuran yang membuat dia bisa naik kelas atau bahkan lulus, melainkan ada faktor penunjang lainnya, yaitu budi pekerti. Sepintar apapun seorang siswa, jika ia tidak mempunyai budi pekerti yang baik maka dipastikan tidak akan memenuhi kriteria kenaikan kelas/ lulus. Bahkan tidak jarang di pesantren yang ada menambahkan faktor hafal al qur’an. So, Sekarang adalah menguatkan tekad dan menguatkan niat, segera belajar bersama kami Pondok Pesantren MBS Ponorogo yang merupakan salah satu pesantren di Ponorogo mengajak impian pendidikan anda menjadi kenyataan, anak-anak yang cerdas, berbudi luhur dan soleh soleha.

Senin, 17 Juni 2019

Muhammad Mursi *


Wafatnya Presiden terpilih Muḥammad Mursī ‘Īsá al-‘Ayyāṭ 17 Juni 2019 menyambung duka mendalam bagi sebagian umat islam di seluruh dunia. Betapa tidak, Mursi dengan segala kekurangannya adalah diantara sedikit pemimpin di dunia dengan kriteria yang mengesankan. Dari sudut pandang akademik, Ia meraih gelar sarjana dan magister di bidang teknik dari Universitas Cairo, adapun gelar PhD nya didapatkan di University Of Southern California , Amerika Serikat. Terkecuali daripada itu, karirnya di dunia pendidikan dimulai sebagai asisten profesor di California State University at Northridge dan pada tahun 1985 mengajar di  Universitas Zagazig Mesir.

Sisi lain dari seorang Mursi adalah kesederhanaannya, disaat pemimpin dunia pada umumnya bergaya hidup mewah beliau justru sebaliknya. Bahkan Naglaa, istrinya lebih suka disebut  sebagai "Pelayan Rakyat [masyarakat Mesir] daripada "Ibu Negara”, sebuah panggilan yang jauh dari diksi kemewahan. Dalam bidang agama, meski latar belakang pendidikannya berkaitan dengan teknik,  namun Mursi berikut keluarganya adalah seorang religious, bahkan konon hafal al Qur’an.

Pribadinya yang tidak bisa dilupakan begitu saja adalah sikap kepemimpinannya yang ramah kepada masyarakat, baik pendukung maupun oposisi. Tampuk kepemimpinannya diperoleh berbeda dengan kebanyakan pemimpin Negara-Negara Arab yang mayoritas monarki. Mursi dipilih dengan suka cita oleh separuh lebih penduduk Mesir secara demokrasi tanpa kekerasan apalagi kudeta. Saat demonstrasi berlangsung yang menuntut pengunduran dirinya, bisa saja kuasanya menjadi tangan besi sebagaimana rezim-rezim yang ada, tetapi beliau memilih jalan berbeda.

Akhir kehidupan seorang Mursi menorehkan kesedihan, bagaimana sebagian kelompok umat islam yang diperjuangkannya justru tidak bisa bersabar dipimpin oleh orang yang sabar, padahal nenek moyang mereka telah begitu pasrah ditindas oleh Fir’aun  Zalim masa lalu maupun Fir’aun-Fir’aun Modern. Sebagian lagi begitu gegap gempita atas penggulingannya, karena menganggap Mursi adalah pemimpin hasil sistem demokrasi terkutuk. Mereka lupa bahwa membangun peradaban yang baik butuh proses yang tidak segampang bermimpi, dan tidak secepat mengatakan “khilafah” adalah solusi.

Setelah bertahun-tahun dipenjara oleh orang yang justru dipilihnya menjadi menjadi komandan militer, kini sang Presiden itu telah kembali keharibaanNya, bersama itu pula doa-doa terpanjatkan. Mungkin Allah lebih sayang kepadaNya dari pada kita, lalu merengkuhnya dalam dekapan kasihNya.

Rabbena yukrimak fi ri'ayati rahmatih Ya Raisna...

*Catatan Renungan

Kamis, 13 Juni 2019

Kaffah Ber-Islam*

Konon diceritakan bahwa Abdullah bin Salam bersama para sahabatnya yang meskipun sudah memeluk islam masih terpengaruh oleh kebiasaan agama Yahudi seperti penghormatan terhadap hari Sabtu dan keharaman daging unta. Hal tersebut karena mereka mulanya berasal dari Yahudi Bani Nadhir di Madinah, akhirnya turunlah surat al Baqarah ayat 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ


Artinya, “Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian,” (Surat Al-Baqarah ayat 208).” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, At-Tafsirul Wajiz, [Damaskus, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 33).


Ayat tersebut di atas menegaskan perintah ber-islam secara kaffah, dimana arti kata ‘kaffah’ berarti seluruhnya tanpa kecuali. Namun demikian, pemaknaan dari keseluruhan ayat tersebut tidak terlepas dari perbedaan perbedaan yang ada. Sebagian orang mengartikan dengan dengan kembali ke Al-Quran dan hadits, bahkan termasuk pada level pembentukan negara Islam. Sebagian lagi mengartikan dengan pendekatan tata bahasa arab dimana kata ‘kaffah’ pada kalimat ini adalah hal.

2 (dua) kemungkinan makna ditemukan berkaitan dengan hal tersebut di atas, yaitu pertama “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semua tanpa kecuali ke dalam Islam”. Ini terjadi manakala kata ‘udkhulu’ sebagai shahibul hal dari kata ‘kaffah’. Kedua adalah “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam seutuhnya.” Hal ini terjadi manakala shahibul hal adalah kata ‘fis silmi’.

Keluar dari beberapa pemaknaan di atas, makna kaffah saya pinjam untuk diilustrasikan dengan perwujudan manusia yang elok. Keelokan manusia tersebut ditunjukkan dengan memiliki beberapa hal, yaitu: nyawa, alas kaki dan tutup kepala, baju, celana dan ikat pinggang. Artinya, point-point tersebut harus ada. Tidaklah ia dikatakan sebagai manusia tanpa mempunyai nyawa, dan tidak pula dikatakan elok manakala hanya mempunyai nyawa, namun tidak berpakaian.

Islam Kaffah yang secara makna adalah sempurnya, setidaknya harus memenuhi syarat-syaratnya, yaitu pengamalan 5 (lima) rukun islam. Syahadat sebagaimana nyawa pada diri manusia, bahwa tidak mungkin disebut islam tanpa pelaksanaannya. Dan pengucapan/ pengikraran islam lewat syahadat meskipun sudah disebut muslim belumlah sempurna, ia perlu melakukan rukun islam lainnya, yaitu sholat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu.

Sholat bagaikan baju, zakat bagaikan alas kaki serta tutup kepala, puasa bagaikan celana, dan haji bagaikan ikat pinggang. Artinya, orang yang bersyahadat semata-mata namun tidak mau melakukan 4 (empat) rukun islam setelahnya bagaikan manusia hidup namun bertelanjang bulat. Ia tidaklah elok sebagai manusia/ tidak kaffah islamnya.

Lalu bagaimana dengan tingkatan iman?

Kualitas keimanan dapat dilihat dari kualitas pelaksanaan rukun islamnya sebagaimana kualitas ke elokan manusia (secara dhahir) dapat ditunjukkan dengan baju  yang bagaimana yang dipakai, begitu juga celana, ikat pinggang dan seterusnya. Bahwa setiap orang mungkin bisa memakai baju, tetapi kualitasnya bisa jadi tidaklah sama, begitu juga dengan iman dan islam dari pelaksanaan rukun rukunya.

Allah A’lam.

*Di Sampaikan Oleh Pengasuh Pondok Pesantren MBS Ponorogo.

Rabu, 12 Juni 2019

Munajat*



Dosa dosa dan pahala kita  berkejar-kejaran di setiap hari, namun mulut masih bisa tertawa terbahak bahak

Detik detik kematian semakin dekat, tetapi terkadang langkah kaki kita semakin menjauh dari RahmatNya

Syetan kita kutuk dalam doa-doa sepanjang waktu, tetapi perilaku kita mengikuti jejak-jejaknya


Allah...
tanpa TaufiqMU, dosa-dosa kami akan menutupi semua kesalehan yang pernah ada
tanpa Kasih SayangMu, tak ada harapan dapat mencicipi SyurgaMu..
KepadaMu kami kembali
KepadaMu kami berserah diri
di hari fitri bulan syawal ini





Oleh:
Umarwan Sutopo
Pengasuh Pondok Pesantren MBS Ponorogo.


Selasa, 02 Oktober 2018

Toleransi Otentik



Toleransi adalah istilah yang patut untuk direnungkan saat akhir-akhir ini marak pereksekusi dilakukan oleh sekolompok ormas (organisasi masyarakat) terhadap dakwah yang dilakukan oleh sebagaian ustadz, semisal Ustadz Abd Shomad. Safari dakwah UAS dijegal di berberapa tempat. Alasannya pun terkesan dibuat-buat dan dipaksakan, yaitu tidak cinta NKRI, HTI maupun tidak Aswaja dan selainnya. Pereksekusi tersebut sayangnya dilakukan oleh mereka yang gemar meneriakkan semboyan kaum toleran dan cinta NKRI. 

Terkecuali daripada itu, dalam rangka memuliakan “toleransi” tidak jarang seseorang/ golongan dicap radikal maupun intoleran oleh kelompok lainnya  karena tidak mau menghadiri perayaan hari agama lain, tidak mau mengucapkan hari natal dan lain sebagainya. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan toleransi? Dan bolehkah toleransi digunakan sebagai dasar intoleran?

Toleransi (tolerance) berasal dari kata ‘tolere’ (bahasa Latin) yang artinya memikul, atau mengangkat beban. Dalam bahasa Inggris, adalah "toleration”. Toleran mengandung pengertian: ber-sikap mendiamkan. Adapun jika dijelaskan dalam sikap, maka makna toleransi adalah suatu sikap tenggang rasa kepada sesamanya. Dalam bahasa arab diidentikkan dengan kata tasamuh. (samuha-yasmuhu-samhan, wasimaahan, wasamaahatan, yang artinya sikap membiarkan, lapang dada, murah hati, suka berderma) . Dengan demikian tasamuh (toleran) bisa dimaknakan membangun sikap untuk saling menghargai, saling menghormati, saling memberi, saling membantu, dan saling memberi kemudahan antara satu dengan lainnya. Pengertian lainnya secara umum adalah "sikap (akhlak) terpuji dalam pergaulan, yang didasari rasa saling memahami dan saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran Islam dan kesepakatan bersama.
Dengan demikian, tidaklah tepat mempereksekusi orang lain dengan tuduhan yang tidak berdasar, bahkan dengan dalih toleransi sekalipun, sebab toleransi adalah sikap memahami dan membiarkan. Hal ini terlebih jika antara yang di pereksesuki dan yang melakukannya berada dalam agama yang sama. Pemahaman, pengertian dan penghargaan satu pihak dengan pihak lainnya timbul secara otentik dari masing-masing pihak yang berbeda, bukan atas dasar pesanan pihak ketiga. Toleransi  tidak bisa dipaksakan oleh pihak superior terhadap inferior sebab itu tidak juga otentik. Ia harus tumbuh karena masing-masing pihak secara sadar membutuhkannya, lalu melahirkan dan merawatnya dalam perbedaan yang harmonis.
Kaitannya dengan hal ini, islam dimana maknanya berarti “damai”, “selamat” dan “menyerahkan diri” sangat menjunjung nilai toleransi. Allah berfirman yang artinya, “dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus:99). Arti lain dari ayat-ayat ini adalah Islam bukan untuk menghapus semua agama yang sudah ada. Ia justru menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati. Keragaman umat manusia dalam agama dan keyakinan adalah kehendak Allah, karena itu tak mungkin disamakan. 
Terkecuali daripada itu, firman-firmanNya yang terkait dengan  toleransi adalah “Untukmu agamamu. Dan untukku agamaku” (QS: Al Kafirun: 5) dan begitu juga  FirmanNya, “Tidak ada paksaan dalam agama” (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Dua ayat ini begitu sempurna, dimana Islam ditekankan untuk menghargai perbedaan, bahkan termasuk di dalamnya persoalan agama. Dakwah dalam ajaran Islam dilakukan melalui proses yang bijaksana. Allah SWT berfirman, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” (QS. Al-Nahl [16]: 125). 
Namun demikian, betapapun islam menghargai perbedaan bahkan terkait agama tanpa terkecuali, tetapi ada batas-batas dimana hal tersebut tidak boleh dilanggar. Sebab jika hal tersebut terjadi, maka imbasnya adalah pencampuran antara hak dan batil. Sikap ini di larang dalam islam, contohnya adalah nikah beda agama maupun beribadah bersama-sama dengan alasan toleransi. Seorang muslim harus bisa membedakan antara sikap toleran dengan sinkretisme. Sinkretisme adalah membenarkan semua keyakinan/agama. Hal ini dilarang oleh Islam sebagaimana  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam". (QS. Ali Imran: 19).

Dengan demikian, wujud toleransi beragama dalam islam tidaklah dimaknai bersama-sama dalam beribadah, melainkan berhenti pada membiarkan perilaku agama dan keyakinan pemeluk  lainnya, tidak mengganggu, mencaci dan merendahkannya. Wujud toleransi beragama misalnya juga, tidak memaksakan untuk mengakui bahwa semua agama adalah sama dan semua agama adalah benar, melainkan semua orang boleh mengakui agamanya sebagai agama yang benar. Ketika seseorang/ sekelompok memaksa orang atau kelompok lainnya untuk menyamakan kebenaran sesuai dengan apa yang dia yakini dan kehendaki, maka disitulah perilaku intoleran dimulai. Dan jikapun pada akhirnya muncul keharmonisan, maka sebenarnya hal tersebut bukan buah dari toleransi otentik, melainkan toleransi semu.
Allah A’lam

Senin, 06 Agustus 2018

Makna Istirja'



MAKNA ISTIR’JA’

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ. أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157).

انَا لله

Sesungguhnya kami adalah milik Allah, karena kehendakNya kami ada dan tanpanya maka ketidaaanlah yang ada.

Sesungguhnya milik kami adalah milikNya, titipannya, tanpa kemurahannya, kita tidak memiliki apapun untuk diakui sebagai milik. Harta benda, Keluarga, bahkan pekerjaan maupun jabatan.

و انا اليه راجعون

Dan sesungguhnya kami serta apa yang kami akui sebagai milik, semuanya akan kembali padanya. Jiwa, raga, harta benda, keluarga, harta, jabatan dan lain sebagainya.

Mereka yang mampu memahami dan menginsyafi istirja’ akan menemukan kebaikan dalam hidupnya. Karena menyadari bahwa semua hal dikembalikan kepada Allah. Kepemilikan yang diakui sebagai titipan, baik kecerdasan akal, keelokan dan keindahan tubuh, berlimpahnya harta benda, anak cucu, maupun gelar, pekerjaan dan pangkat yang dimiliki semata-mata  hanyalah karunia yang dititipkan Allah. Usaha manusia untuk mendapatkannya hanya sebatas memproses, bukan menghasilkan/ menentukan hasil. Dengan demikian, maka rasa sombong, riya’ maupun ujub bisa diminimalisir maupun dihindari. Tidak muncul “akuisme”, mengaku-aku.

Mereka yang mampu memahami dan menginsyafi konsep Istirja, akan berada dalam kebaikan dan menuju kebaikan selanjutnya, karena ia akan bersama Allah dan untuk Allah. Kehidupannya, harta bendanya, jabatannya dan semua yang ia miliki. Mendapatkannya tidak menimbulkan kesombongan, dan melepaskannya tidak menimbulkan kekecewaan. Karena tidak ada kecewa terhadap kehendak Allah bagi orang muslim, yang ada adalah ridho dan ihlas. Ridho dan ihlas.

Allah A’lam.

Rabu, 02 Mei 2018

Muhasabah

Rasulullah SAW pernah diinterupsi terkait dengan ijtihadnya, sebagai contoh saat pengaturan strategi Perang Badar oleh al Habab Bin Munzir RA. Alih-alih berjumawa karena dirinya seorang utusan Tuhan, justru beliau mengiyakan pendapat sahabatnya ini. Peristiwa hampir semisal terjadi menjelang peperangan Khandak. Salman Al Farisi mencetuskan pertahanan parit, dimana hal tersebut tidak dikenal oleh bangsa Arab sebelumnya.


Sekelumit tentang kisah tersebut di atas sebenarnya merupakan pelajaran berharga bagi mereka yang menjadi pemimpin, guru, bahkan murabby atau mursyd sekalipun. Bahwa betapapun tinggi derajat di hadapan para kawulo, murid, salik maupun mad’u, namun dirinya tetaplah manusia biasa yang terbuka celah lebar kesalahan maupun kekhilafan. 

Mereka yang tidak mau sesekali mendengar suara yang lain, semata-mata karena merasa lebih tahu, senior maupun berpengalaman, maka sesegeralah bertaubat,  karena dalam dirinya ada ke takabbur an yang bersifat khofy. Padahal kesombongan adalah sifat yang amat dibenci Tuhan (Allah) YME.

Kamis, 05 April 2018

Manusia dan Keinginannya

Ternyata manusia cenderung meminta..
Pasangan, atau tambahannya
Anak keturunan atau tambahannya
Jabatan, atau tambahannya
Harta, atau tambahannya
Umur dan tambahannya
Entah karena atas dasar “ketamakannya” atau “kebutuhannya” atau sekedar “keinginannya”.
Kalau sekedar rasa” tamak dan ingin”, bukankah  jawaban atas permintaan hanyalah“rasa memiliki” dan secuil kenikmatan?

Sementara yang memiliki akan kehilangan,
Sementara tanggung jawab atas kepemilikan adalah amanah,
Dan sementara amanah pasangan, anak, jabatan maupun harta yang termiliki belum tentu tertunaikan.

Adakah manusia yang meminta untuk tidak meminta lagi
dalam keterbatasannya ia merasa cukup
dalam kesempitannya ia merasa lapang
dan..
dalam kesedihannya ia merasa bahagia


Jumat, 12 Januari 2018

Memaknai Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah salah satu tujuan dari kehidupan manusia pada umumnya. Apakah ia beriman maupun tidak dan bahkan terlepas dari pandangannya terhadap kehidupan itu sendiri. Namun demikian, ada diantara manusia yang lupa tentang apa itu makna kebahagiaan dan bagaimana cara memperolehnya. Sebagian terjebak dalam pemahaman bahwa kebahagiaan adalah kepuasan, sehingga kemudian mengerahkan kemampuannya baik waktu, tenaga maupun harta untuk mendapatkannya, karena baginya puas adalah bahagia. Sementara kita sepakat bahwa umumnya kepuasan manusia tidak terbatas. Ia akan mencari dan mencari serta mencari apa yang menjadi keinginannya, manakala tergapai barulah ia puas dan manakala tidak, ia pun kecewa.

Berangkat dari inilah manusia tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki manakala memaknainya dengan kepuasan. Ia akan selalu diiringi dengan keluh kesah terhadap banyak hal. Tentang pekerjaan, tentang keluarga, tentang ini dan itu, sebagaimana Allah berfirman “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan dia menjadi kikir.” (QS.Al-ma’arij:19-21).

Orang-orang yang berkeluh kesah bukan golongan hamba yang bersyukur kepada karunia Allah yang begitu luas. Padahal jika direnungkan dengan mendalam, betapa banyak nikmat tercurah. Ada orang bijak berkata, kenapa kita menangis karena tidak memakai kaos kaki, padahal ada orang yang tertawa bahagia bahkan tanpa memiliki kaki. Kita memikirkan kaos kakinya, tanpa melihat nikmat kaki yang kita punya, sedangkan orang lain sudah tidak memikirkan kaki, apalagi kaos kakinya.

Bahagia adalah manakala  sudah ridho tentang ketetapan Allah atas dirinya. Apakah ketetapan itu sesuai dengan keinginannya maupun tidak. Mereka yang bisa melakukannya akan mampu menjadi hamba-hamba yang bersyukur manakala keinginannya dikabulkan dengan kehendak Allah lalu menjadi kenyataan. Adapun sebaliknya, manakala tidak menjadi kenyataan, maka ia akan menjadi sosok yang sabar atas ketetapan tersebut, dan pada akhirnya syukur dan sabar adalah kunci dari kebahagiaan. Lihatlah betapa bahagiannya orang yang diuji untuk berkorban oleh orang yang dicintainya, ia menerima ujian itu dengan sabar dan penuh rasa nikmat. 

Teringat nasehat yang saat indah, bahwa saat pagi menyapa bersama hangatnya cahaya matahari yang jernih, cuaca yang sejuk dan udara yang bersih, sesekali pandangilah  segelas kopi atau teh yang terhidang untuk kita, jangan lekas-lekas kita minum. Pandangi dulu betapa di sana ada nikmat Allah yang luar biasa, warna kopi yang menghitam, atau teh yang menguning, lalu hirup kepulan asap tipis yang terbang dari gelasnya dengan perlahan, pejamkan mata dan berfikirlah, sadarlah betapa banyak orang yang tidak bisa melakukannya. Lalu teguklah sedikit demi sedikit, rasakan kenikmatannya dalam setiap tetes. Jangan terburu-terburu, karena tidak ada kenikmatan dalam terburu-buru. 

Kopi ini adalah kopi yang sama dengan yang kemarin, teh ini adalah teh yang sama dengan teh yang kemarin, tetapi sensasi kenikmatannya berbeda manakala kita bisa melakukan caranya. Kehidupanpun demikian kurang lebihnya tentang aktifitas di rumah, di jalan dan di tempat kerja sekalipun. Rumah yang kita tempati masih sama dengan yang kemarin, kendaraan yang kita pakai masih sama dengan yang kemarin, keluarga yang kita miliki adalah keluarga yang sama dengan kemarin. Manakala kita bisa menikmatinya dengan kesyukuran dan kesabaran, maka insya Allah disitulah muara kebahagiaan yang hakiki.

Allah A’lam.

Menyelesaikan Diri Sendiri

Perlombaan-perlombaan kehidupan yang tak pernah berhenti, baik pekerjaan, harta benda dan lain sebagainya terkadang membuat manusia melupakan jati dirinya sendiri, apatah lagi sifatnya manusia yang dengan keterbatasannya justru menyimpan keinginan-keinginan yang tak terbatas.

Anak-anak sekolah yang bingung ingin menjadi siapa dan bagaimana pun para pekerja yang bingung ingin seperti siapa dan bagaimana. Tentu ini semua lumrah bagi manusia, tetapi jika ia terjebak dalam persoalan ini, maka sesungguhnya ia tidak akan mampu melihat dirinya sendiri dengan bijak. Bahwa orang yang ia kagumi begitu mempesona, dan ia harus seperti itu untuk mempunyai pesona. Bahwa orang yang ia kagumi begitu bahagia dengan segala pekerjaan maupun berikut penghasilannya dan diapun harus seperti itu untuk mendapatkan kebahagiaan yang serupa. Dan seterusnya dan seterusnya.

Lalu bagaimana?

Seorang sahabat dengan arifnya memberikan nasehat  ,”Siapapun kita, dimanapun kita dan dalam posisi apapun kita, hal terpenting dan terawal adalah menyelesaikan persoalan diri kita sendiri, baik sebagai siapa, dimana dan dalam posisi apa”. Dalam artian kita tidak boleh gagal menjadi siapa kita, apa dan dimana. Ketika seorang mahasiswa dengan semangatnya yang luar biasa, menggebu-gebu menginginkan perubahan masyarakat bahkan tatanan negara, namun betapapun itu diejawantahkan dalam seminar, diskusi maupun demontrasi jalanan, selama ia tidak selesai dengan dirinya sendiri, kuliahnya tidak beres, sering alpa, tugas tidak dikerjakan dan seterusnya, maka sebenarnya ia pun telah memulainya dengan kegagalan. Sebab perubahan masyarakat bahkan negara adalah kolektifitas perubahan individu-individu di dalamnya.

Ketika orang berambisi untuk mendapatkan kehidupan mapan seperti orang lainnya, namun tidak menyelesaikan persoalan dirinya, kerjanya dan dengan segala pernak perniknya, maka sebenarnya ia pun telah memulainya dengan kegagalan, sebab kemapanan mereka yang telah mapan dimulai dari selesainya permasalah mereka. Mereka sudah jatuh bangun untuk menyelesaikan mapannya.

Ya benar, kita harus menyelesaikan permasalahan kita sendiri jika tidak ingin masalah yang menyelesaikan kita. Kita harus mampu mengenali siapa diri sendiri dengan baik, sebagai apa dan dimana, lalu berbuat baik semaksimal mungkin  sebagai siapa dan dimana 

Allah A’lam.

Rabu, 27 Desember 2017

Catatan Pendidik di Akhir Tahun


Bismillah
Ini adalah catatan-catatan sederhana, menutup kisah-kisah yang telah berlalu bersama waktu dan langkah-langkah yang telah terhapus masa. Penyesalan dari segala khilaf kepada semua anak-anak dan adik-adik yang pernah saya ajar. Diantara mereka ada yang sekedar kenal, akrab, dan bahkan dekat. Meminjam bahasa mengesankan dari sahabat yang mengesankan, “sedekat pintu dengan engselnya” katanya.

Sekira 3 (tiga) tahun ke belakang adalah masa dimana ada banyak yang saya sesali, terutama tentang cara mendidik anak-anak di beberapa sekolah yang pernah saya ajar. Surabaya, Sidoarjo dan terakhir Malang. Tahun-tahun itu adalah masa dimana saya “belajar” mengajar. Membotak, menendang, memukul, marah-marah, dan bentuk semisalnya yang pernah terjadi, ternyata terlalu koboy untuk dipraktekkan zaman now. Tidak serta merta salah memang, tetapi juga tidak benar sepenuhnya.

Kekhilafan-kekhilafan tersebut sebenarnya adalah lebih banyak dari faktor “ijtihad mengajar”, dimana salah satu orientasi pendidikan yang saya fahami adalah menyiapkan manusia-manusia yang bermental tangguh, jujur dan sebagainya. Dalam penghayatan saya, ketangguhan tidak bisa dibangun dari pendidikan yang “klelar-kleler”, sehingga tidak jarang sebagian mereka “terpaksa” tidak hanya dijatuh bangunkan dengan kata-kata, bahkan ada yang harus dipukul dan ditendang.

Mayoritas mereka yang terdidik di pesantren kurun waktu tahun 2000 ke belakang, hal tersebut biasa. Guru tidak masalah memukul anak yang memang harus dipukul, dan anakpun tidak merasa masalah dirinya dipukul, selesai maka selesai masalah. Murid tidak merasa dibenci gurunya saat dirinya dimarahi bahkan dengan kata-kata “goblok” sekalipun. Selesai, maka selesai juga masalah. Mereka “guru dan murid” rata-rata saling menyadari bahwa pendidikan bukan soal cerita-cerita indah, hadiah-hadiah menarik serta  lagu-lagu yang menyenangkan. Tidak, tidak terbatas tentang itu, karena itu adalah masa-masa anak-anak play group berada.

Apapun itu, saya tetap yakin bahwa ada masa yang tepat untuk cara yang tepat dari orang yang tepat maupun untuk orang yang tepat. Kepada segenap anak-anak yang hatinya pernah terluka, kepada adik-adik yang perasaannya pernah tersayat serta orang-orang dekat atas cara yang tidak tepat, waktu dan tempat yang tidak tepat serta orang yang tidak tepat saya  tidak bosan untuk meminta maaf dan berharap kalian menjadi orang-orang terbaik dimanapun dan kapanpu. Aamiin.

Jumat, 10 November 2017

Tuan Guru



“Tuan Guru, kapan waktunya hamba boleh membuka”. Kata seorang cantrik kepada gurunya pada pertemuan yang ke 40 kalinya sore itu.

“Kalau kamu sudah mampu menutupnya kembali anakku”.

“Kenapa, bukankah aku manusia, aku membuka hanya ingin melihat dunia, mengenal cinta dan memiliki sesuatu layaknya manusia lainnya Tuan Guru..”.

“Anakku, meski membuka bukan persoalan mudah, tetapi menutuppun tidak lebih mudah daripada membuka. Kamu harus belajar banyak nak…Ada yang banyak membuka matanya atas keelokan dunia, lalu ia silau dan tidak ingin menutupnya kembali, bahkan sampai akhirnya, usialah yang menutupnya kembali dengan paksa. Ada pula yang membuka hatinya untuk mengenal cinta, dan ia terpesona olehnya sampai-sampai cinta itu menutupi hatinya. Ada juga yang membuka keinginannya untuk menjadi ini dan itu, memiliki ini dan itu, lalu ia tidak mampu menutupnya kembali, sampai keinginan-keinginan itulah yang akhirnya membunuhnya sendiri “.

“Apakah kamu sudah mengerti Nak, sebagian pengetahuanmu terkadang membelenggumu, sebagian pengertianmu justru menyiksamu, dan diantara milikkmulah yang merenggutmu. Berhati-hatilah untuk tahu dan mengerti, untuk memiliki dan mendapatkan, sebab jika kearifanmu tidak mampu mengendarainya, itu semua adalah awal dari penyesalanmu. Menyesal karena telah mengerti, menyesal karena telah mengetahui, menyesal karena telah mendapatkan, dan menyesal karean telah memiliki”.

Tamat.

Kamis, 02 November 2017

RUWET

Petruk tertatih tatih menyusuri jalanan Karang Kadempel via Amarta, di bawah terik matahari yang menyengat bercampur peluh keringat meluluh di pipi, leher dan punggungnya. Kepanasan, kehausan dan kelelahannya sebenarnya bukan persoalan utama kegeramannya, melainkan tentang betapa "ruwet"nya urusan di negerinya tersebut.

Ia heran, kenapa sudah sekitar 72 Tahun kemerdekaan negerinya, masih saja banyak pegawai yang bermental "londho", yang berprinsip "kalau bisa dibikin susah kenapa harus dibikin mudah". Edan!!!... benar benar edan, katanya dalam hati. Kegeramannya bermula saat ia mengurus administrasi keluarganya, Anjasmoro yang hendak menikah. Pasalnya, Panatagama yang membidangi hal ehwal pernikahan kurang "meridhai" proses nikah yang hendak dilakukan di balairung negara, justru menekankan untuk dilakukan dirumah mempelai. 

Petruk berfikir, jika paduka raja sudah memberikan pilihan kepada segenap rakyat untuk menikah di Balairung maupun di rumah, maka dimanapun tempat yang dipilih seharusnya sang panatagama bertindak arif, karena itu titah negara. Usut punya usut ternyata Petruk tahu, kalau proses di Balairung, maka rakyat tidak boleh dipungut tarif, berbeda dengan jika di rumah yang harus ada upetinya. Duh Gusti Ingkang 'Akaryo Jagad, apakah gara-gara "buntelan amplop" itu yang menjadikan perlakuan Panatagama berbeda kepada rakyatnya yang mau menikah. 

Akhirnya, tidak adanya kesamaan penulisan antar dokumen yang dimiliki Anjasmoro menjadi "dosa" yang harus dihisab dengan begitu teliti oleh Abdi Negara tersebut. Padahal, hal itu tidak menjadi persoalan besar kecuali memang ingin dipersoalkan. Dus Petruk pun kesana kemari untuk memenuhi syarat-syarat dengan datang ke instansi lainnya yang "diduga" memiliki hubungan terkait. Ia datang ke tempat yang dituju, dan bla-bla-bla, ternyata Juru Tugas yang dia datangi tidak berbeda jauh dengan tempat yang pertama. Malah bersabda ba-bi-bu tanpa dasar hukum negara untuk menyelesaikan hal yang di"masalahkan" oleh sang panatagama.

Para Jama'ah bisa menebak, masalah tidak terurai, melainkan justru bertambah, dari A, ke B, dan ke C, dari tempat satu ke tempat dua, ke tempat satu lagi, ke dua lagi, terus ke tempat tiga, dan...belum terselesaikan. "Edan..Edan!!", Guman Petruk. Kenapa para Abdi negara tidak belajar hukum, padahal persoalan-persoalan bisa merujuk ke sana agar rakyat tidak pontang panting tanpa kejelasan akibat para abdi yang berfatwa tanpa dasar hukum.

Tiba di rumah, Gareng, saudara Petruk pun ikut urun rembug, katanya "Kenapa kamu tidak berdebat dan begini begitu Truk, kamu kan pernah belajar tentang itu di Padepokan Alang-Alang Kumitir, Goblok Kamu Truk". 
"Lambemu Reng, mereka itu penguasa, kalau sudah berkuasa enggak perduli fatwanya ngawur ataupun salah, maunya dituruti, Edan tenan poko'e Reng", Jawab Petruk berapi-api.
"lha terus kon arep ngopo truk sak iki?".
"Aku arep mbakar menyan, tak sedakno Reng, tak laknat Reng, tak kutuk Reng...".
"Ha..dilaknat pie Truk".  
"Wong-wong sing tugase nulung wong cilik, sing tugase ngayomi kaum cilik, neng malah angel-angelne, lek ra ndang tobat bakal tak sedakno mugo-mugo matine angel, uripe soro".
"Istigfar Truk, Istigfar!!!!.. lha yo po mustajab dongamu, wong modelmu koyo ngono".
"Lamuno dongaku ra kabul, tapi sing ngamini wong jutaan kok Reng, poro kawulo alit sing koyo aku mesti akeh sing ngamini".
"Truk.. eling, eling Truk, elingo dawuhe bapak, bahwa manungso iku kudu berjiwa besar, dan kebesaran jiwa itu tumbuh dari jiwa-jiwa yang bisa memaafkan".

..bersambung.