Translate

Senin, 17 Juni 2019

Muhammad Mursi *


Wafatnya Presiden terpilih Muḥammad Mursī ‘Īsá al-‘Ayyāṭ 17 Juni 2019 menyambung duka mendalam bagi sebagian umat islam di seluruh dunia. Betapa tidak, Mursi dengan segala kekurangannya adalah diantara sedikit pemimpin di dunia dengan kriteria yang mengesankan. Dari sudut pandang akademik, Ia meraih gelar sarjana dan magister di bidang teknik dari Universitas Cairo, adapun gelar PhD nya didapatkan di University Of Southern California , Amerika Serikat. Terkecuali daripada itu, karirnya di dunia pendidikan dimulai sebagai asisten profesor di California State University at Northridge dan pada tahun 1985 mengajar di  Universitas Zagazig Mesir.

Sisi lain dari seorang Mursi adalah kesederhanaannya, disaat pemimpin dunia pada umumnya bergaya hidup mewah beliau justru sebaliknya. Bahkan Naglaa, istrinya lebih suka disebut  sebagai "Pelayan Rakyat [masyarakat Mesir] daripada "Ibu Negara”, sebuah panggilan yang jauh dari diksi kemewahan. Dalam bidang agama, meski latar belakang pendidikannya berkaitan dengan teknik,  namun Mursi berikut keluarganya adalah seorang religious, bahkan konon hafal al Qur’an.

Pribadinya yang tidak bisa dilupakan begitu saja adalah sikap kepemimpinannya yang ramah kepada masyarakat, baik pendukung maupun oposisi. Tampuk kepemimpinannya diperoleh berbeda dengan kebanyakan pemimpin Negara-Negara Arab yang mayoritas monarki. Mursi dipilih dengan suka cita oleh separuh lebih penduduk Mesir secara demokrasi tanpa kekerasan apalagi kudeta. Saat demonstrasi berlangsung yang menuntut pengunduran dirinya, bisa saja kuasanya menjadi tangan besi sebagaimana rezim-rezim yang ada, tetapi beliau memilih jalan berbeda.

Akhir kehidupan seorang Mursi menorehkan kesedihan, bagaimana sebagian kelompok umat islam yang diperjuangkannya justru tidak bisa bersabar dipimpin oleh orang yang sabar, padahal nenek moyang mereka telah begitu pasrah ditindas oleh Fir’aun  Zalim masa lalu maupun Fir’aun-Fir’aun Modern. Sebagian lagi begitu gegap gempita atas penggulingannya, karena menganggap Mursi adalah pemimpin hasil sistem demokrasi terkutuk. Mereka lupa bahwa membangun peradaban yang baik butuh proses yang tidak segampang bermimpi, dan tidak secepat mengatakan “khilafah” adalah solusi.

Setelah bertahun-tahun dipenjara oleh orang yang justru dipilihnya menjadi menjadi komandan militer, kini sang Presiden itu telah kembali keharibaanNya, bersama itu pula doa-doa terpanjatkan. Mungkin Allah lebih sayang kepadaNya dari pada kita, lalu merengkuhnya dalam dekapan kasihNya.

Rabbena yukrimak fi ri'ayati rahmatih Ya Raisna...

*Catatan Renungan

2 komentar: